Posts

Showing posts with the label Sekali Seumur Hidup

Olahraga

Image
Lagi happening banget nih olahraga di Indonesia.  Yes.  Perhelatan olahraga se-Asia dan kebetulan Indonesia jadi tuan rumahnya. Hari kelima sejak dibuka tanggal 18 kemarin, aku rajin update  mengenai beritanya. Mulai dari opening ceremony, perolehan emas, peringkat Indonesia, dan sebagainya. Namun aku cuma sekadar tahu. Aku jarang ikutan nonton pertandingannya, sampai akhirnya tadi aku nonton pertandingan Asian Games di televisi untuk pertama kalinya. Pertandingan Final Tunggal Putra Badminton Indonesia vs China.  Beruntung aku nonton malam ini, pertandingannya sungguh seru, menenggangkan dan langsung trending di twitter. Kenapa bisa trending ? Karena aksi dari Bang Ginting di lapangan tadi sungguh bikin haru, dia berjuang sampai dia nggak mampu lagi bertahan. Dia bikin gelora semangat di dalam dada rakyat Indonesia nyala kembali. Kalo aja aku nggak nonton bareng keluarga, pastilah aku udah nangis terharu.  Momen kayak gini bikin aku ing...

Kasih Ibu Sampai Ke Mantan #2

Habis nelepon dan klarifikasi bahwa anak bungsunya yang imut, ceria serta baik hati ini baik-baik saja tanpa kekurangan apapun, aku langsung ngecek WhatsApp.  Yaps, miscall beruntun dari Ummi. Kemudian chat dari Abang Ipar, yang waktu kutelepon dianya santai aja. Kayak udah tahu gitu.  Terus geger di grup chat Geng Alay, ngakunya mereka dichat sama Kak Na nanyain ada kontak enggak sama aku, pada tahu enggak aku ke mana. Dan pada kirim-kiriman screenshoot chat masing-masing.  Terus temen kuliahku juga nanyain, aku lagi di mana karena ada yang nanya nomer hapenya dia.  Terus intinya, malam itu aku merasa bersalah sekali. Dan nggak lagi-lagi deh, membiarkan hape dalam keadaan mati walau sedetik.  Besoknya, ayah nelepon.  Certita dengan nada yang lebih baik dari semalam. 

Kasih Ibu Sampai Ke Mantan #1

Image
Dua hari yang lalu aku baru bikin Ibu-ku nangis.  Bikin orang tua nangis itu adalah suatu hal yang paling dihindari sama anak manapun, apalagi nangisnya karena dia sendiri. Percaya deh, sebandel-bandelnya anak, se-durhakanya anak, sebengalnya anak, kalau udah liat Ibunya nangis pasti luruh. Pasti nyesel dan merasa bersalah. Kalo nangisnya karena bahagia sih, nggak papa. Bikin Ibu nangis bahagia itu udah kayak tantangan sendiri, soalnya seingetku sepanjang aku hidup belum  pernah tuh aku bikin Beliau nangis bahagia.  Makannnya, karena belum bisa bikin Beliau nangis terharu bahagia, seenggaknya jangan sampe bikin Beliau nangis karena sedih. And I did it.  😢 PFT Dua hari yang lalu aku pergi ke Sekaten, sekitar pukul 8 malam Ayah nelepon, terus kami mengobrol hal-hal biasa.  Nah, selama di sekaten smartphone-ku lowbat,  aku emang punya powerbank. Tapi aku gabawa kabel, dan smartphone-ku hanya bisa dicolokin sama kabel-kabel tertent...

Highlight

Image
Hehehehehehehehe.... Maafkan, aku mengosongkan bulan Februari tanpa satu pun postingan.  Ketahuilah, aku menyesal. Sungguh.  Dalam jangka waktu satu bulan setengah, banyak banget yang terjadi.  Mulai dari perasaan yang ujung-ujungnya kusadari kalau ternyata aku hanya kebaperan, tapi aku nggak bisa kabur dan cuma bisa mencoba terbiasa dan akhirnya nggak bisa ngerasa apa-apa lagi. File 'drama menye-menye' dalam kehidupan percintaanku tanpa sengaja kudelete, demi masa depan baik  dan cerah bercahaya tanpa baper. Terus di awal Februari, aku mengikuti training kantor yang katanya mau dijalankan rutin tapi karena ada sesuatu yang lebih urgent, akhirnya training yang bernama Inspira Booth Camp hanya dilakukan di minggu pertama. Yang detailnya kuceritakan di sini . Piknik bareng Monika. Berdua naik motor dari Jogja-Gunung Kidul PP seharian yang ternyata menguras tenaga, alhasil besoknya seluruh badan langsung pegal-pegal.  Terus ada games 3...

HARBOLNAS CERIA

Image
Seminggu menuju 2017, postingan bulan Desember-ku hanya dua biji. Itu juga satunya karena ikut tantangan menulis, yang berakhir mengenaskan karena walau hadiahnya sudah ditambah tetap saja tulisanku nggak terpilih.  Padahal aku sudah berjanji pada diri sendiri. Harbolnas usai, aku ingin memposting banyak hal. Aku juga udah janji, kalau aku nggak boleh baca novel sebelum menulis dan memposting review novel yang baru kubaca.   Tapi emang ya, apa-apanya yang dilakukan sama diri sendiri itu susah banget. Janji sama diri sendiri. Bohong sama diri sendiri. Pacaran sama diri sendiri. Susah. Semua susah. Mana janji manismuuu~~

Jungkir Balik Di Tahun Monyet

Image
Kau pernah merasakan kehilangan cinta, kehilangan teman, dan kehilangan harapan orang tuamu dalam waktu yang bersamaan? Aku pernah. Jujur, aku ingin melenyapkan ingatan tentang pahitnya kehilangan itu. Membuangnya seperti debu yang terbawa angin. Hilang tak berbekas. Lenyap tak berjejak. Aku sedang berusaha melakukannya dengan cara tak pernah menyebutnya atau bercerita pada siapapun. Kisah itu. Kehilangan itu. Sudah kuendapkan bersama semua perasaanku.   Jadi, ya aku pernah merasakan terpuruk karena kehilangan. Tapi jangan harap aku mau bercerita detailnya. Itu menyakitkan. Oh, jangan memohon.

Selamat Menempuh Hidup Baru, Zulaikha Amalia Siregar A.Md (Ahli MaDang)!

Image
Setelah melewati huru-hara persiapan menuju wisuda, akhirnya di hari Sabtu tanggal 24 September 2016, akhirnya aku resmi menjadi salah satu alumni dari 1.740 mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta. YEAY! upload-nya di sini aja. aku nggak suka liat wajahku bermake up wkwk cantik, ya? cantik dong! :p Tapi nyatanya aku nggak sebahagia sesuai seharusnya. 

Bukannya Menyayangi Artinya Menerima Segala Kekurangan?

Image
cerita sebelumnya... Ingat cerita sebelumnya, tentang Jack yang baru mau bicara padaku setelah satu bulan? Jack baru mau bicara padaku tepat setelah dua hari aku putus dengan Panji.  Hubunganku dengan Panji hanya bertahan satu bulan empat belas hari. Padahal aku belum mengenal Panji lebih jauh. Aku belum sempat bermalam mingguan dengannya. Aku belum sempat memberikannya semangat ketika ia bertanding basket.  Tetapi aku sudah terlanjur menyayanginya. Aku memang mudah sekali menyayangi seseorang, karena itu, walau umur berpacaran kami masih hijau, ketika aku dan Panji putus rasanya tetap saja menyakitkan.  Panji suka melakukan hal-hal yang selalu berhasil membuatku tekejut dan malu. Ia tidak ragu-ragu menunjukkan perasaannya padaku. Harusnya aku bahagia karena ada seorang pemuda yang berani menunjukkan rasa sayangnya padaku, tetapi yang kurasakan hanyalah malu tiap ia melakukan itu.  Contohnya seperti ini.

Cinta Pertama(nya)

cerita sebelumnya... Bel tanda usai sekolah sudah berbunyi. Refleks, aku menutup buku apa saja yang terbuka di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Bel memang seperti sihir, apalagi bel tanda pelajaran usai. Aku masih menata buku-buku, sampai Jani menyentuh lenganku, memberi isyarat untuk menghentikan aktivitasku dan melihat ke arah papan tulis. Aku melihat ke arah papan tulis, seseorang sedang berdiri di sana, siap untuk meminta perhatian dari anak sekelas. “Teman-teman jangan pulang dulu, ya! Ada yang mau aku omongin.”  Suasana kelas yang tadinya ramai, pelan-pelan menjadi tenang. Kemudian, orang yang berdiri di depan kelas tadi berjalan ke belakang kelas, dan menghampiriku.  “Temenin aku ke depan, yuk?”   Aku kaget—tentu saja. “Buat apa?” Jantungku mulai berdetak tak keruan. 

Perpisahan Termanis

Image
cerita sebelumnya... Libur kenaikan kelas, aku dihantui oleh telepon dan sms iseng yang kerap kali menganggu. Awalnya nomor iseng ini hanya mengsmsku sehari sekali, menjadi dua kali sehari, lalu tiga kali sehari. Hai, leh ‘nal? Semua pesan bunyinya sama dan tak pernah kutanggapi. Mungkin kesal, nomor iseng ini mulai ekstrim, ia meneleponku, namun ketika aku angkat dia langsung mematikan sambungan telepon. Orang ini pun meneleponku tak kenal waktu, pernah ia menelepon ketika tengah malam.  Akhirnya aku mengganti nomor handphone. Dan sejak itu nomor iseng yang sering mengganggu tak pernah lagi menghubungi sampai aku masuk sekolah. Suatu malam, tiba-tiba nomor iseng itu menelepon. Walau tidak kusimpan, tetapi aku masih sedikit hapal dengan nomornya. “Halo.”  “Halo, ini Lia?” kali ini si penelepon tidak menutup sambungan.

Siapa Menyakiti Siapa?

Image
cerita sebelumnya... Siswa-siwi asrama tingkat dua merupakan anak-anak paling netral di sekolahku. Kami masih terikat peraturan asrama, yang terkadang kami langgar dan siasati agar terbebas dari hukuman. Peraturan senior tidak lagi berpusat pada kami. Meski kami masih harus berhati-hati dengan mereka. Tetapi kami telah terbiasa. Senioritas bukanlah menjadi masalah besar untuk kami, murid-murid tingkat dua.  Di sekolah ini, aku tak pernah mengenal anak laki-laki mana pun selain teman seangkatanku—tambahan untuk Kak Arif dan “kakakku” tentu saja. Suatu hari, aku menemukan secarik kertas di halaman terdepan buku catatan.  Nanti sore. Lapangan basket. -Kenny

Kakak-Adik Zone

Image
FUFUFUFUFU~

Apa Dia Sakit Hati?

Image
"Bacanya pake cermin."

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

Image
agak nggak rela sih masang foto ini. secara tokoh yang aku ceritain di sini nggak ada mirip-miripnya sama Shinichi-_-

Mencari Sisi Mistik Lawang Sewu

Image
Sebelum memulai menulis dan membaca, ada baiknya kita mengucap basmallah terlebih dahulu, sebagai tanda syukur kepada Allah SWT ta’ala yang JAGO banget bikin terharu karena hal-hal kecil yang bisa bikin bahagia.  Bismillahhirrohmanirrohim… Hari ini (tanggal 09 Maret 2016), adalah tanggal merah. Artinya hari ini aku nggak perlu ke kantor dan nggak perlu merasa bego karena ilmu yang kupunya ternyata kurang banget untuk diterapkan di kantor. Oh ya, hari ini juga lagi rame-ramenya Gerhana. Entah Gerhana Bulan entah Gerhana Matahari, tapi yang katanya hanya terjadi setiap 300 tahun sekali dan hanya dilewati Indonesia. Jadilah Indonesia demam gerhana. Ada yang rame-rame melihat gerhana. Ada yang sholat gerhana juga.  Dan aku termasuk orang yang bangun kesiangan, jadi nggak dapet keduanya.

Makrab Kejar Tayang

2016 diawali dengan acara jalan-jalan bersama Taekwondo UNS dan Advertising B 2013. Tanggal 5 – 7 (Selasa-Kamis), aku beserta peserta makrab yang saat itu sekitar 30 orang piknik ke Pantai Sundak. Ini kedua kalinya aku ikut makrab Taekwondo UNS  selama aku kuliah. Yang pertama, makrab di Pantai Bandengan, Jepara, yang ceritanya bisa dilihat di sini. Yang kedua, itu tahun lalu di Pantai Watukarung, Pacitan, aku nggak ikut. Dan untuk yang terakhir ini, kalo bukan karena aku jadi pengurus UKM, bisa jadi aku nggak ikut lagi-_-v  Entah kenapa aku nggak menemukan sesuatu yang menarik yang bisa aku tuliskan di sini. Dibanding sama yang pertama kali aku ikut makrab dengan status masih anak bau kencur di situ, makrab kali ini serasa nge-krik aja buat aku.  Nggak ada main kartu. Nggak ada truth or dare. Nggak ada gayeng-gayengan yang bikin ngakak sampai sakit perut. Padahal bisa dibilang, Pantai Sundak itu 2 kali lipat lebih bagus dari Pantai Bandengan. Padahal juga, aku ud...

Moments from 2015

Image
Banyak yang terjadi di 2015. Di sini ada beberapa momen yang aku upload dengan caption singkat. Ya, ternyata banyak juga momen-momen yang nggak ketulis di blog. Untung ada teknologi bernama kamera. Walau nggak serinci tulisan, lewat foto seenggaknmya aku masih bisa inget kapan, di mana dan bagaimana momen itu terjadi. Aku emang addict banget sama yang namanya kenangan. Buat aku kenangan itu semacam penanda kalau kita pernah bahagia dan pernah sedih juga. Aku jadi pen ngepost betapa pentingnya menulis buat aku. Ntar deh ya, kalo nggak males. huahahaha Jadi, ini dia momen 2015-ku....

Piknik Nomer 1. Tugas Belakangan.

Image
Hal paling gila sepanjang ingatkan yang aku lakukan selama ini adalah main ke Jogja jam 12 malam tanpa ada rencana sebelumnya.  Dan itu terjadi kemarin, Minggu 13 Desember 2015. Jadi kronologinya seperti ini: Malam Senin sekitar pukul 11 malam aku baru tiba di kos, sehabis nge-date sama pacar kesayangan yang dua harian ini ga ketemu, dikarenakan aku sibuk mengurusi ujian kenaikan sabuk yang diadakan hari Minggu. Sampai kamar, seperti biasa aku ngecek hape dulu, baca chat-chat di grup kelas. Kesimpulan dari chat itu: Wawan sama Ermas mau makan berdua dan nyeletuk sekalian mau ke Jogja. . Scroll chat lagi, celetukan mereka ditanggapi dengan ajakan ke Jogja bareng sama Mon. Bella. Nissa dan Desy.  Scroll scroll, akhirnya aku sampai di chat yang isinya, "Oke, ciwi-ciwi lagi siap-siap, nih."   Sampai situ, aku langsung ke kamarnya Mon, konfirmasi langsung tentang obrolan mereka di grup yang katanya mau ke Jogja. Masalahnya sebelum itu, setahuku Monika ...

Kabar-Kabur

Image
Halo, Blog! Aku kembali.  Sesuai pernyataan di post sebelumnya, aku bakal rajin menulis lagi. Sebelum IQ-ku semakin menurun karena nggak pernah dipake-_-v Mungkin, eh bukan mungkin, tapi AKU HARUS MELUANGKAN waktu untuk menulis. Hm, mungkin aku mau bikin challenge kayak Ecik gitu, jadi kalo sehari aku nggak menulis, ntar konsekuensinya aku harus donasi lima ribu rupiah buat diri sendiri tapi uangnya nggak boleh digunakan kalau nggak ada urusan mendadak kayak tiba-tiba abang siomay lewat dan aku lapar tapi nggak punya duit lain selain uang donasi itu. :| Ada banyak, banyak banget yang aku mau ceritain. Tentang ulang tahun ke-20, tentang UTC, tentang anu, dan tentang kuliah.

Ordinary Event at Ordinary Ocean with A Special Person

    Bahagia! :D Ah enggak, LEBIH DARI BAHAGIA! :D Kemarin, Minggu, 25 Mei 2014, aku ke Pantai Kuwaru lho~ Hihihihi, iya sebenernya nggak ada rencana mau ke pantai, sih. Tapi gara-gara salah satu temanku yang bernama Hanindha Pradipa termasuk pengurus HMJ di Fakultas Geografi UGM mengadakan suatu kegiatan bernama “Bersih Pantai blablabla”, dan dia mengajakku untuk mengikuti kegiatannya, akhirnya aku jadi turut serta mengikuti kegiatan kecil namun berguna untuk nusa dan bangsa itu. Dia menggunakan nama seseorang untuk mengajakku, nama yang otomatis buat aku nggak bisa nolak ajakan temanku yang cungkring tapi sudah berpacar itu. Malah ketika Nindha memberitahu nama orang-yang-nggak-bisa-kutolak itu kalau dia ikut berpatisipasi dalam kegiatan, aku yang sebelumnya masih ngantuk dan berniat bangun siang, langsung melek dan langsung turun dari tempat tidur. Sampe sekarang, aku nggak bisa percaya efek itu orang bisa sampe segitunya buat aku-_-v