Diseases

Stella memandangi gundukan tanah bernisan yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka, orang yang menjadi pacar sahabatnya akan pergi secepat ini.
“Lian... Aku belum sempat minta maaf sama kamu. Lian.. aku minta maaf karena pernah benci sama kamu, aku—“ ujarnya terisak.
Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundak Stella, kemudian orang itu merengkuh kepala Stella, seolah merasakan kepedihan yang sama dengan Stella—bahkan perasaan kehilangan yang mendalam melebihi Stella.



*
            “Rayeeeen!!!”
Lian berlari dari gerbang sekolah menuju kelasnya, tak memperdulikan orang-orang yang tengah menatapnya bingung. Ia hanya tahu satu hal, Rayen telah kembali.
“Aku kangen kamu, Ray!” Lian berdiri tepat di hadapan Rayen dengan senyuman lebar tersungging di bibirnya.
Rayen pun tak kuasa mengatupkan bibirnya, ia pun turut tersenyum lebar. Rayen merapatkan topi yang dikenakannya untuk menutupi pitak pasca operasi yang dijalaninya.
“Aku juga kangen sama kamu.”
Lian tersenyum mendengar ucapan Rayen, kemudian ia mengernyitkan keningnya. “Kamu tumben pake topi,”
“Oh ini, waktu operasi rambutku dicukur, tapi nggak semuanya, jadi pitak gini deh. Nah, biar kamu nggak malu punya pacar pitak, makannya aku tutupi pake topi.”
Lian mengangguk-angguk. “Iya. Aku nggak mau punya pacar pitak, hehehe.”

“Ehem! Yang lagi kangen-kangenan. Terus lupa deh sama temennya,” Stella berdiri di antara keduanya. “hai Ray! Operasinya sukses, kan?”
“Halo Stell, ya begitulah. Kalau operasinya gagal aku nggak mungkin ada di sini, kan?” jawab Rayen.
“Iya sih, hm.. yaudah deh, lanjutin kangen-kangenannya.” Stella meninggalkan Lian dan Rayen.
“Jadi, kamu sekarang udah bener-bener sembuh, kan?” Lian menatap Rayen, terlihat di wajahnya bahwa ia cemas.
Rayen tersenyum, lalu mengangguk pelan. “Semoga.” Gumamnya pelan.
            Dari kejauhan Stella terus memperhatikan dua sejoli yang tadi ia temui. Ada rasa senang melihat Rayen telah kembali dari operasi pengangkatan tumor otak yang di deritanya, namun di sisi lain, Stella merasakan hatinya teriris melihat kebersamaan Rayen dan Lian. Ia merasa bahwa dirinyalah yang pantas untuk Rayen, bukan Lian. Stella menatap ke arah jendela kaca kelasnya, samar-samar terlihat bayangan wajahnya. “Apa aku kurang sempurna di matamu? Apa 10 tahun bersahabat tidak cukup untuk meyakinkanmu bahwa hanya akulah yang mengerti kamu? Aku enggak malu punya pacar pitak, asal itu kamu, Rayen...”

            Rayen duduk di bangku kosong yang ada di sebelah Stella dan membisiki Stella sesuatu.
“Ntar temenin aku, yuk,”
“Kemana? Nggak sama Lian aja?” jawab Stella ketus sibuk mengutak-atik gadget-nya.
“Rumah sakit. Aku nggak mungkin ngajak Lian, aku nggak mau dia khawatir sama aku.”
Stella menghentikan kesibukannya. “Ngapain kamu ke rumah sakit? Bukannya kamu udah sembuh?”
“Sst.. jangan keras-keras, ntar Lian denger! Ntar pasti aku ceritain, yang penting kita ketemu di tempat biasa, jam 4. Oke?”
“Tempat biasa?”
“Taman perumahan.” Kemudian  Rayen meninggalkan Stella.
Stella menarik napasnya panjang, senyuman tipis terukir di bibirnya, bahagia karena ternyata Rayen masih mengingat ‘tempat biasa’ mereka. Padahal, sudah lebih dari 3 tahun mereka tidak mendatangi tempat itu. Tetapi perasaan senang Stella berganti menjadi gelisah saat ia mengingat sesuatu yang akan diceritakan oleh Rayen kepadanya.

Stella melirik bangku kemudi—ke arah Rayen tepatnya. Stella tak bisa meredam rasa penasarannya, sejak berangkat ke rumah sakit dan sekarang keluar dari rumah sakit Rayen tak berucap sepatah kata pun.
Mendadak Rayen menghentikan mobilnya.
“Kenapa brenti, Ray?”
Rayen menatap Stella dengan tatapan jahil. “Kamu kenapa dari tadi ngeliatin aku? Terpesona?”
Stella mengembuskan napasnya kuat. “Kamu itu... aku khawatir sama kamu, kenapa malah bercanda sih?” ujar Stella gusar dan malu, karena kenyatannya ia memang terpesona dengan Rayen walaupun rasa penasarannya lebih mendominasi.
Wajah Rayen berubah serius. “Ah, ini.. pembengkakan otak, Stell,”
“Hah? Pembengkakan otak?” Stella tidak dapat menahan rasa terkejutanya.
“Iya, pembengkakan otak. Pembengkakan otak itu salah satu efek samping yang ada pasca operasi.”
“Tapi ada obatnya, kan, Ray?” tanya Stella panik.
“Pembengkakan otak bisa diobati dengan antibiotik, tapi masalahnya...” Rayen menghela napas. “tubuhku udah kebal oleh antibiotik.”
“Ray, bisa sembuh, kan?” suara Stella terdengar bergetar.
“Bisa, tapi butuh waktu yang lama. Aku terlalu banyak mengkonsumsi obat, jadi dokter belum memastikan antibiotik apa yang cocok untuk tubuhku.”
“Kamu pasti sembuh, Ray!” air mata Stella mulai menetes.
Rayen menghapus air mata Stella. “Sebenernya, aku udah capek, Stell. Beberapa tahun ini aku selalu berurusan dengan otak dan obat. Rasanya lebih baik kalo aku nggak sembuh aja,”
Air mata Stella semakin deras. “Ray! Please, jangan ngomong gitu! Kamu harus berjuang untuk...” Stella menghapus air mata yang mengalir di pipinya. “Lian.”
Rayen tersentak ketika Stella menyebut nama Lian. Lian, alasannya untuk terus melanjutkan hidup.
“Iya, hidup aku cuma buat Lian. Thanks, Stell.”
Stella tersenyum tipis. Kini rasa sakit yang ia rasakan lebih dari sekedar kata ‘sakit hati’, rasa sakit yang dialami Stella membuatnya sesak hingga sulit bernapas. Ia menyesal harus mengatakan bahwa Rayen harus berjuang demi Lian, bukan demi dirinya, yang lebih mencintai Rayen dari siapapun.

**
            “Akhir-akhir ini kamu sering sakit ya,” Rayen memperhatikan Lian yang wajahnya bersimbah keringat sehabis latihan cheerleaders.
“Iya deh, yang nggak pernah sakit lagi hihihi,” Lian mengacak-acak rambut Rayen, kemudian ia menyadari sesuatu. “Eh, kamu udah nggak pitak lagi, ya? Kok topinya nggak dipake?”
“Iya dong hehe, cakep, kan?”
Lian tak menanggapi kata-kata Rayen.
“Lian, kamu nggak papa?” tanya Rayen panik katika melihat wajah Lian berubah menjadi pucat dan badannya menjadi dingin. Baru saja Rayen memegangi punggung Lian, tiba-tiba Lian tak sadarkan diri.
           
            “Enggak papa, Ray. Kemaren itu aku cuma kecapekan karena latihan cheers terlalu berlebihan. Nggak perlu ke rumah sakit lah,”
“Tapi Lian, Mama sama Papamu juga udah bilang kalo kamu itu harus diperiksain lho, beberapa minggu ini kamu sering sakit.”
“Yang bujuk biar Mama sama Papa nyuruh aku periksa itu kamu, kan? Kamu itu cuma paranoid karena dulu kamu sakit. Aku nggak ada riwayat penyakit, Ray.”
Rayen menyerah. “Aku harap begitu.”
**
            “Kenapa harus pindah?” tanya Rayen.
“Karena orangtuaku harus pindah.”
“Iya, tapi apa harus sekarang? Dan apa harus Singapura?”
Lian mengangguk. “Maaf, Ray.”
Rayen memeluk erat tubuh Lian. “Aku pasti akan kangen banget sama kamu.”
Lian terhanyut dalam pelukan Rayen, air matanya membasahi bahu Rayen. Firasatnya mengatakan ini akan jadi kesempatan terakhirnya bertemu dengan Rayen.
**
            Stella menatap dengan bingung rumah bertingkat tiga, bercat abu-abu gelap yang ada di hadapannya. Ini bukan pertama kalinya ia ke sini, tapi sejak kepindahan Lian tiga bulan yang lalu, ia sudah tidak pernah menginjak rumah Lian sama sekali, dan sekarang ia diminta ke rumah ini tanpa sepengetahuan Rayen.
“Oh, Stella. Masuk, Nak!” Mama Lian menyapa Stella dengan ramah, namun Stella merasakan ada hal yang tak beres telah terjadi.
“Kamu masuk aja ke kamarnya Lian, dia ada di kamar.” Ujar Mama Lian.
Stella mengangguk, tanda tanya berputar-putar di kepalanya, tapi Mama Lian tak memberikan kesempatan Stella untuk bertanya. Jadi, Stella hanya berjalan ke kamarnya Lian dengan diam seribu bahasa.
            Seketika kaki Stella melemas saat memasuki kamar Lian dan mendapati tubuh Lian yang sudah menyusut drastis terkulai lemah di atas ranjang.
“Lian..” panggilnya sambil menahan air mata.
“Hai,” Lian tersenyum, tapi bagi Stella, senyuman itu adalah senyuman penderitaan.
“Kamu mau kan nemenin aku di sini, cuma beberapa hari kok, bentar lagi aku akan pergi. Tapi tolong, jangan beritahu Rayen—“
Air mata Stella tak terbendung lagi. “Lian, kamu cuma satu-satunya orang yang ia perjuangkan agar dia tetap hidup, tapi kenapa kamu malah bilang kalo kamu bakal pergi?! Apa kamu nggak mau berusaha hidup untuk Rayen?! Rayen belum sembuh, Lian! Tolong, cuma kamu.. Rayen...”
Lian tertunduk. “Aku udah berusaha, Stell, tiga bulan. Tapi hasilnya nol besar, maafin aku. Aku nggak mau liat Rayen menderita dan tambah sakit karena liat aku kayak gini. Tolong aku, Stell, aku nggak tahu harus apa. ”
Stella terduduk, air matanya sudah jatuh berbulir-bulir ke lantai, kemudian ia memeluk Lian. “Iya. Aku nemenin kamu di sini, dan aku janji Rayen nggak akan tahu.”

Hari ketiga Stella datang ke rumah Lian setelah ia sakit. Stella teringat sesuatu, ia pernah membenci Lian, dan ia akan meminta maaf hari ini. Namun, saat Lian tepat di depan gerbang rumah Lian, Mama Lian langsung memeluknya.
“Lian sudah pergi, Stell...”

*
            “Ray, ini dari Lian.” Stella menyerahkan sebuah amplop kepada Rayen.
Rayen membukanya.

Rayen Ardhitristian,
            Mungkin ini terakhir kalinya aku menuliskan namamu di secarik kertas. Bukan masalah, namamu selalu ada di hatiku, bahkan sampai saat aku tidak ada di sampingmu. Tapi kamu tidak perlu memaksakan diri, aku memeperbolehkan nama siapapun terukir di hatimu, asal wanita, aku pasti setuju.
            Ray, aku minta maaf buat semuanya, aku tahu, kamu sedang marah saat ini, karena aku tidak memberitahumu tentang hal ini. Aku ingin kamu mengingatku sebagai gadis biasa yang selalu tersenyum, bukan gadis yang tergeletak lemah seperti yang Stella lihat beberapa hari ini, karena itulah, aku tidak memberitahumu tentang keadaanku.
Leukimia Myeloid Akut, aku pikir aku masih bisa sembuh, tapi ternyata penyakit jenis ini terlalu cepat dan aku tidak tahu lagi harus apa saat dokter berkata “penyakit ini sudah menyerang hampir seluruh sistem saraf, sangat kecil kemungkinan untuk bertahan” dan saat itu aku memilih untuk menghabiskan waktu untuk mengingatmu, bukan di rumah sakit dan menjalankan pengobatan yang tak pasti.
            Ray, saat Stella berkata kalau kamu belum sembuh, dan kamu berusaha hidup untukku, Aliana Hastari, aku merasa malu. Aku tidak bisa sepertimu. Aku tidak berusaha hidup demi kamu, seperti yang kamu lakukan. Dan ketika aku sadar hal itu, semuanya sudah terlambat..
            Aku tahu kamu bukan orang yang lemah seperti aku, Ray. Aku tahu, kamu pasti akan terus berusaha hidup. Walaupun aku sudah tidak ada, aku tahu kamu akan menemukan alasan lain untuk hidup, setidaknya berusaha mewujudkan keinginan terakhirku; aku ingin kamu selalu berjuang, Ray.

            “Pasti, Lian. Aku pasti akan berusaha, berusaja untuk mewujudkan keinginanmu.” Isak Rayen. 

Comments