krisis semangat

Belakangan ini, aku banyak tersadar oleh suatu hal. Pertama, aku sadar betapa sebenarnya aku sekolah dua tahun di SMA itu rasanya sia-sia. Aku jarang memperhatikan guru, terutama pelajaran Matematika, dan walhasil di H-29 UN bahkan, aku masih 'buta' akan materi untuk pelajaran yang paling aku tidak sukai itu. Menyesal? Jelas. Baru belakangan ini aku sadar, saat aku merasakan capeknya mengejar materi yang tak kujamah berbulan-bulan itu. Huft.. Dan sialnya, di H-29 ini, aku malah kehabisan bekal semangat. Akhir-akhir ini aku bawaannya males-malesan dan uring-uringan.. Sebenarnya aku tahu apa yang buat aku kehilangan semangat, nah, yang ini berhubungan sama hal yang akhir-akhir ini menyadarkanku nomer dua.
Kedua, ya menyangkut itu dan itu lagi. Selama ini, enggak, bukan selama ini. Beberapa bulan menuju UN ini aku selalu bersugesti hal-hal positif tentang hal ini, maksudnya, biar aku enggak terus-terusan galau gara-gara persolan kampret kayak gini. Tapi ternyata, semakin aku bersugesti positif, semakin aku banyak berpikir 'seandainya' dan akhirnya semua itu buat menyesal. Menyesal, karena hal yang aku rasakan selama kira satu setengah tahun ini nggak ada gunanya buat aku. Aku cuma buang-buang waktu untuk sesuatu yang udah jelas tertulis. Bukannya aku enggak usaha buat 'buka' ikatan yang sering tiba-tiba buat aku nyesek sampe nggak bernapas ini. Tapi, setiap aku pelan-pelan membuka 'ikatannya', dia seolah-olah tahu, dan dia mengikatku lagi, lebih kencang. Haaaaah.... Siang tadi dia tanya, "Kamu nggak semangat kenapa?" dan seandainya aku bisa jawab, "Aku nggak semangat karena kamu, karena kamu perduli sama aku, padahal aku udah nggak berharap lagi kamu terus-terusan nanya keadaanku, karena perduli atau enggak, kamu tetep aja nggak bisa aku miliki! Jadi mending nggak usah ngelakuin hal yang sia-sia buat aku." Seandainya aku bisa bilang gitu sama dia.... Seandainya....

Comments