Posts

Showing posts with the label a whole of love

surat cinta.

Image
Aku mencintai seseorang.  Aku pikir, dia juga merasakan hal yang sama denganku. Dia tahu bahwa aku sangat mengagguminya, dan mungkin dia juga sangat menyukaiku. Hubungan kami seperti pada mata pelajaran Biologi yang dinamakan Simbiosis Mutualisme. Kami membutuhkan satu sama lain, dan tak ada satu pun yang merasa dirugikan atau tersakiti. 

sebuah curhat.

Image
Aku kenal dengan banyak pria. Sedari kecil, kusadari aku emang suka sekali mendapat perhatian makhluk yang kelaminnya berlawanan denganku itu. Entah kenapa. Entah berasal dari mana.  Dulu waktu usiaku 5 tahun ada 2 orang teman Ayah yang menginap di rumah. Yang satu perawakannya besar, berkumis dan ramah. Selayaknya orang-orang yang bertemu dengan anak kecil berusia 5 tahun, beliau mengajakku berbincang. Dulu itu aku menyenangkan dan termasuk anak yang bijak alias banyak bicara, karena aku juga suka diajak ngobrol. Teman ayah satunya lebih muda dari yang perawakannya besar itu, badannya juga lebih kurus namun berisi. Ideal. Sayangnya, Oom satu ini enggak tertarik untuk mengajakku berbincang. Dia enggak ngobrol sama sekali denganku.  “Apa aku kurang menarik? Gimana caranya biar dia bisa menganggap aku ada, ya?” Bayangkan. Anak usia 5 tahun bisa berpikiran kayak begitu. Enggak persis begitu, tapi aku ingat banget. Aku pengen bikin beliau itu memperhatikan aku.

#1 Tentang Kekasih Idaman

Image
Bagaimana tipe kekasih yang kamu dambakan? Manis. Baik. Ramah. Setia. Perhatian. Pengertian. Kira-kira begitu yang kutuliskan pas mengisi kolom "pacar idaman" di biodata ketika aku dan teman-temanku menggelar sesi tukar biodata pakai kertas binder di zaman Sekolah Dasar. Kalau dipikir-pikir sekarang, kok aku kayaknya kebelet puber gitu, ya? Kecil-kecil udah mikirin pacar. :| sumber: google. Semakin gede, semakin kenal sama banyak orang. Keinginan untuk punya pacar sesempurna keinginan ketika SD hanya menjadi sebuah angan-angan. Mungkin memang ada orang yang manis, baik, ramah, setia, pengertian, dan perhatian, tetap semakin dewasa aku sadar bahwa untuk berhubungan dengan orang lain, nggak cukup dengan enam sifat itu. 

Bukannya Menyayangi Artinya Menerima Segala Kekurangan?

Image
cerita sebelumnya... Ingat cerita sebelumnya, tentang Jack yang baru mau bicara padaku setelah satu bulan? Jack baru mau bicara padaku tepat setelah dua hari aku putus dengan Panji.  Hubunganku dengan Panji hanya bertahan satu bulan empat belas hari. Padahal aku belum mengenal Panji lebih jauh. Aku belum sempat bermalam mingguan dengannya. Aku belum sempat memberikannya semangat ketika ia bertanding basket.  Tetapi aku sudah terlanjur menyayanginya. Aku memang mudah sekali menyayangi seseorang, karena itu, walau umur berpacaran kami masih hijau, ketika aku dan Panji putus rasanya tetap saja menyakitkan.  Panji suka melakukan hal-hal yang selalu berhasil membuatku tekejut dan malu. Ia tidak ragu-ragu menunjukkan perasaannya padaku. Harusnya aku bahagia karena ada seorang pemuda yang berani menunjukkan rasa sayangnya padaku, tetapi yang kurasakan hanyalah malu tiap ia melakukan itu.  Contohnya seperti ini.

Cinta Pertama(nya)

cerita sebelumnya... Bel tanda usai sekolah sudah berbunyi. Refleks, aku menutup buku apa saja yang terbuka di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Bel memang seperti sihir, apalagi bel tanda pelajaran usai. Aku masih menata buku-buku, sampai Jani menyentuh lenganku, memberi isyarat untuk menghentikan aktivitasku dan melihat ke arah papan tulis. Aku melihat ke arah papan tulis, seseorang sedang berdiri di sana, siap untuk meminta perhatian dari anak sekelas. “Teman-teman jangan pulang dulu, ya! Ada yang mau aku omongin.”  Suasana kelas yang tadinya ramai, pelan-pelan menjadi tenang. Kemudian, orang yang berdiri di depan kelas tadi berjalan ke belakang kelas, dan menghampiriku.  “Temenin aku ke depan, yuk?”   Aku kaget—tentu saja. “Buat apa?” Jantungku mulai berdetak tak keruan. 

Perpisahan Termanis

Image
cerita sebelumnya... Libur kenaikan kelas, aku dihantui oleh telepon dan sms iseng yang kerap kali menganggu. Awalnya nomor iseng ini hanya mengsmsku sehari sekali, menjadi dua kali sehari, lalu tiga kali sehari. Hai, leh ‘nal? Semua pesan bunyinya sama dan tak pernah kutanggapi. Mungkin kesal, nomor iseng ini mulai ekstrim, ia meneleponku, namun ketika aku angkat dia langsung mematikan sambungan telepon. Orang ini pun meneleponku tak kenal waktu, pernah ia menelepon ketika tengah malam.  Akhirnya aku mengganti nomor handphone. Dan sejak itu nomor iseng yang sering mengganggu tak pernah lagi menghubungi sampai aku masuk sekolah. Suatu malam, tiba-tiba nomor iseng itu menelepon. Walau tidak kusimpan, tetapi aku masih sedikit hapal dengan nomornya. “Halo.”  “Halo, ini Lia?” kali ini si penelepon tidak menutup sambungan.

Siapa Menyakiti Siapa?

Image
cerita sebelumnya... Siswa-siwi asrama tingkat dua merupakan anak-anak paling netral di sekolahku. Kami masih terikat peraturan asrama, yang terkadang kami langgar dan siasati agar terbebas dari hukuman. Peraturan senior tidak lagi berpusat pada kami. Meski kami masih harus berhati-hati dengan mereka. Tetapi kami telah terbiasa. Senioritas bukanlah menjadi masalah besar untuk kami, murid-murid tingkat dua.  Di sekolah ini, aku tak pernah mengenal anak laki-laki mana pun selain teman seangkatanku—tambahan untuk Kak Arif dan “kakakku” tentu saja. Suatu hari, aku menemukan secarik kertas di halaman terdepan buku catatan.  Nanti sore. Lapangan basket. -Kenny

Kakak-Adik Zone

Image
FUFUFUFUFU~

Apa Dia Sakit Hati?

Image
"Bacanya pake cermin."

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

Image
agak nggak rela sih masang foto ini. secara tokoh yang aku ceritain di sini nggak ada mirip-miripnya sama Shinichi-_-

Ini Yang Kurasa Padamu, #L

Bagaimana bisa kamu menjadi orang yang benar benar ingin kubenci? Sementara, dulu begitu dalam aku menjatuhkan hati.  Hatiku menolak pergi, tetapi kenyataan terlalu menyakiti.  

Belum Bisa Lupa

Image
Satu-satunya yang aku hindari adalah terbangun tengah malam. Kau tahu mengapa? Karena pada tengah malam bukan hanya inspirasi yang datang, tetapi juga kenangan. Semalam itu terjadi. Semua yang pernah kita lewati memaksa untuk diingat, tanpa bisa kubantah. Tentangmu. Tentang kita. Semuanya. Dan kusadari, semuanya masih lekat. Dan kusadari, rasaku masih tak berubah. Dan kusadari, selama ini aku tidak membuangmu, tidak seperti yang kaulakukan padaku. Sampai aku tiba di titik ini, "ini sudah berminggu-minggu, jangan bersedih lagi. dia saja sudah menjalani hidupnya, tanpa merasa kehilanganmu sedikit pun. masa kamu terus-terusan seperti ini?" Ya, Aku tahu. Jadi, aku memaksakan diri untuk melanjutkan tidur... Dengan air mata. -ZAS

Ketika Aku Bicara Tentang Perasaan

Aku mungkin bukan yang paling tepat mengatakan hal ini kepadamu. Aku tak ahli dalam urusan perasaan. Perasaan tentu hanya hati yang tahu, tetapi hatimu sedang lumpuh, kan? Karena itu aku yang menggantikannya. Jadi, dengarkan aku sekali ini saja.  Sudahlah, jangan bersedih lagi. Dia pergi dengan kemauannya, ia memilih untuk meninggalkanmu di saat kau masih sayang-sayangnya. Dia memilih untuk menjadi salah satu dari sekian yang telah mengecewakanmu. Bukan kau yang memintanya untuk pergi. Bukan kau pula yang menyebabkan dia pergi. Berhenti mencari-cari kesalahanmu sendiri. Kau tidak pernah salah dalam mencintai, kesalahanmu satu-satunya adalah kau terlalu mencintainya. Sehingga kau merasa semua ini—kegagalan hubungan kalian, tak lain berasal dari dalam dirimu.  Bukannya kau tidak berjuang. Bukannya kau tidak mencoba untuk bertahan dari semua pengabaian, kesakitan dan penderitaan batin yang kauterima. Aku tak meragukan kekuatanmu dalam hal itu, tetapi kau bukan Tu...

Sesekali, Aku Ingin Menjadi Kamu

Image
Sesekali, aku ingin menjadi kamu. Menjadi seorang yang dirindukan, meski kamu tak pernah merindukan atau bahkan kau tak ingin membuang waktumu yang berharga itu untuk sekadar mengingat, apalagi merindukan. Kamu bukannya tidak tahu. Kamu tahu, tapi kamu memilih mengabaikannya. Sesekali, aku ingin menjadi kamu. Menjadi seorang yang diperjuangkan, meski kamu sendiri tahu bahwa kamu bukanlah seorang yang pentas diperjuangkan. Kamu membiarkan seorang terus berjuang untukmu, meski kamu tahu ia akan mati oleh perjuangannya itu. Kamu tahu, tapi kamu memilih diam dan membiarkan dia mati. Sesekali, aku ingin menjadi kamu. Menjadi seorang yang tak pernah peduli kepada orang yang selalu tulus menyayangimu. Yang selalu bersusah payah hanya untuk membuatmu tersenyum. Yang rela menukar apa pun miliknya dengan kehadiranmu di sampingnya. Kamu tahu, tidak ada lagi usahanya yang membuatmu tersenyum. Kamu pun tak sudi lagi bertemu dengannya.

[CERPEN] Bagimu, Kita Hanyalah Dua Orang Asing

Image
Kita bertemu lagi malam ini. Rasanya aku ingin menghambur ke pelukanmu ketika untuk pertama kalinya setelah sekian lama tak saling bersapa muka. Tapi itu tidak kulakukan tentu saja. Aku hanya menyunggingkan senyum lebar yang selalu kuperlihatkan padamu, memberimu kode bahwa aku masih aku yang dulu—yang selalu bahagia dengan pertemuan kita. “Ke mana kita?” katamu. “Ke mana saja, asal denganmu.”  inginku mengatakannya. “Makan, ya? Aku laper.”  Kamu mengangguk pelan dan melajukan sepeda motormu. Sedangkan aku, yang berada di jok belakang hanya terdiam terpaku melihat punggungmu yang kokoh. Lagi-lagi aku harus mendengar perdebatan antara pikiran dan hati, ini kesekian kalinya mereka berdebat setiap kita bertemu. “Aku ingin bersandar di punggungnya.” “Jangan bodoh!” sergah pikiranku.  Kutarik kembali kepala yang sudah  siap untuk bersandar di punggungmu itu. Aku mundur beberapa senti sampai tubuhku berada di ujung jok. Aku menatap jarak k...

1000 Kali Patah Hati

Image
Aku patah hati. Lagi.  Setelah beberapa minggu aku bersikeras untuk bertahan, dan memperjuangankan rasaku untuknya dengan ‘berdarah-darah’.

[CERPEN] Seperti Kemarin

Image

Dear, L #3

Happy 3rd Luniversary! Perjalanan masih panjang, aku tahu. Sepanjang apa, entahlah aku nggak mau mengira-ngira.  Bahagia atau tidak di akhirnya? Lagi, aku tidak tahu, dan tidak ingin mengira-ngira juga.  Mungkin begitu juga dengan kamu. Karena itu, kamu selalu mengatakan, “Jalani saja dulu.” , kan? Tiga bulan masih terlalu dini untuk berharap lebih pada sebuah hubungan (itu sih yang aku pelajaran yang aku dapat setelah menyayangi beberapa orang sebelumnya), makannya itu aku sekarang juga menerapkan prinsip “jalani aja dulu”.  Bukan nggak mau berkomitmen, sih. Tapi baiknya emang dijalanin aja, karena jujur, aku nggak mau lagi-lagi kecewa. Kasihan sama hati adek, kak. :” Biarlah si hati beristirahat sejenak tanpa diberatkan dengan harapan macam-macam. Toh, selama ini dia udah bekerja keras menerpa kerasnya ombak. :”  Si Hati butuh jeda, dengan berbahagia bersamamu, #L.   Selama ini, aku bahagia sama kamu. Aku harap kamu juga bahagi...

Dear, L #2

Image
Sayang, kau tahu, Bahagia dan Penderitaan itu sepaket dengan Cinta? Cinta itu tidak mudah dan tidak selamanya bahagia. Suatu saat, Cinta akan penuh dengan air mata dan kekecewaan. Maafkan, jika suatu saat aku mengecewakanmu, kautahu bahwa itu adalah sebuah katidaksengajaan. Maafkan, jika suatu saat aku menyakitimu, kautahu bahwa aku tidak pernah ingin menyakiti siapa pun, terutama kamu, Sayang, kita hanya perlu membiarkan Bahagia dan Kecewa silih berganti menghampiri kita, kita hanya perlu bertahan dan saling memaafkan jika salah satu dari kita ada yang merasa tersakiti. Dengan begitu cinta kita bisa menjadi satu paket yang lengkap.  - ZAS

Dear, L #1

Image
"Dear, L. Karena tak butuh satu alasan pun untuk [tidak] berbahagia saat aku jatuh cinta, dan seterusnya jatuh cinta [kepadamu]. Sejak kau izinkan aku tinggal di hatimu, tak ada lagi tempat yang kutuju: selainmu. Di sudut hatimu aku ingin mengaduh bahagia, tanpa jera. Di sudut hatimu, aku ingin tinggal selamanya. Menuliskan cerita bahagia, tanpa jeda. Jelas sudah! Tak perlu kucari bahagia lagi; karena di kamu, bahagiaku itu." - Moammar Emka