Cinta Pertama(nya)


Bel tanda usai sekolah sudah berbunyi. Refleks, aku menutup buku apa saja yang terbuka di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Bel memang seperti sihir, apalagi bel tanda pelajaran usai. Aku masih menata buku-buku, sampai Jani menyentuh lenganku, memberi isyarat untuk menghentikan aktivitasku dan melihat ke arah papan tulis.

Aku melihat ke arah papan tulis, seseorang sedang berdiri di sana, siap untuk meminta perhatian dari anak sekelas.

“Teman-teman jangan pulang dulu, ya! Ada yang mau aku omongin.” 

Suasana kelas yang tadinya ramai, pelan-pelan menjadi tenang. Kemudian, orang yang berdiri di depan kelas tadi berjalan ke belakang kelas, dan menghampiriku. 

“Temenin aku ke depan, yuk?”  

Aku kaget—tentu saja. “Buat apa?” Jantungku mulai berdetak tak keruan. 


Suara kelas ramai kembali. “Udah Li, ikut aja… Biar cepet Panji nembak kamu, biar kita cepet pulang!” celetuk sseseorang yang entah siapa, aku tak sempat mengenali suara itu. 

“Hussh!!” suara yang lainnya.

Ha? Nembak?

Aku menoleh ke arah Jani, meminta petunjuk. Jani mengangguk sambil tersenyum. Walau ragu-ragu, aku maju ke depan kelas, dan dia—yang menyuruhku untuk menemaninya tadi, mengikutiku dari belakang. 

Ketika aku berbalik, aku melihatnya sudah memegang setangkai mawar merah, belum sempat aku mengeluarkan suara, ia sudah berlutut.

“Li, kita kan udah deket lumayan lama. Nah, sekarang aku nembak kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku? Mau ya? Ya?”

Suara kelas menjadi ramai sekali.

“Terima! Terima! Terima!”

Panji masih dalam posisi yang sama, senyumnya mengembang. Sedangkan aku, rasanya mau pingsan saking malunya. 

Aku mengedarkan pandangan, teman sekelasku masih bersorak-sorak sambil bertepuk tangan. Ada juga yang memegang handphone-nya dengan kamera ke arahku, pastilah dia sedang mendokumentasikan momen yang sweet tapi memalukan ini. 

Pandanganku berhenti pada seorang anak laki-laki di sudut kelas. Ia dan teman semejanya hanya diam. Saat mata kami bertemu, cepat-cepat ia membuang muka kemudian ia keluar dari kelas lewat pintu belakang disusul oleh temannya.

Jack! 

Aku memanggilnya dalam hati, yang tentu saja tidak akan didengarnya. 

Jack adalah teman laki-lakiku pertama di sekolah ini. Jack dan aku sering berada di satu kelompok, ini terjadi karena namaku dan nama Jack berurutan di presensi. Selain itu, mejaku dan Jack juga depan-belakang. Jack duduk bersama Tama, yang merupakan teman satu SMP-nya, sedangkan aku duduk bersama Jani. Jack, Jani, dan Tama adalah teman satu SMP, karena itu mereka cepat akrab. Aku pun ikut merasa akrab dengan mereka. 

Berbulan-bulan kami duduk dalam formasi yang sama. Ada yang bilang laki-laki dan perempuan itu tidak bisa sepenuhnya bersahabat, jika keduanya tidak saling cinta, berarti salah satunya yang memendam perasaan.

Mungkin itulah yang dialami oleh Jack. Hal ini tidak dialami oleh Tama dan Jani, karena saat itu mereka sama-sama memiliki pacar.

Aku bukannya tidak menyadari, cara Jack memperlakukanku berbeda dengan cara Jack memperlakukan Jani atau teman lainnya. Namun aku tidak mau berspekulasi selama Jack belum menyatakan perasaannya padaku, aku masih menganggap Jack sebagai teman biasa, meski ada harapan kalau suatu saat Jack berani mengungkapkan perasaannya padaku.

Hal itu tak kunjung terjadi. Sikap Jack masih abu-abu. 

Sampai akhirnya, Panji mulai mendekatiku. Panji hampir tiap hari mengirimkanku sms, yang tentu saja kutanggapi. Semakin lama, semkin terlihat jelas bahwa Panji tertarik kepadaku. Aku akui, dalam hal ‘keberanian’ dalam menunjukkan perasaannya, Panji jauh bila dibandingkan dengan Jack. Hal ini yang membuatku pelan-pelan memperhatikan Panji. 

Tama, Jack marah ya, sama aku?

Aku mengirimkan sms pada Tama. 

Kamu nerima Panji? .

Aku teringat pada peristiwa tadi siang. 

Iya.

Kamu tahu dia bakal marah, kenapa malah diterima? Dia suka sama kamu. Aku kira kamu juga suka sama dia. 

Aku nggak tahu dia suka sama aku, Tam. Dia nggak pernah bilang.

Kemudian smsku tak berbalas lagi, seketika aku merasa bersalah, tetapi aku sudah terlanjur menerima Panji untuk menjadi pacarku. 50% karena aku kasihan padanya, 50% karena memang aku menyukainya.

Bukan salahku, kan? Bukan, kan? 

Sejak aku berpacaran dengan Panji, sejak itu pula Jack menjauh. Ia tak mau lagi berbicara padaku, dekat denganku bahkan ia terlihat berusaha untuk tidak saling bertatap muka. 

“Jack beneran marah sama aku, ya?” 

“Dia sakit hati. Kamu itu cinta pertamanya. Udahlah, nggak usah urusin dia, urusin aja, tuh.” Tama menunjuk Panji yang baru saja datang. 

Satu bulan kemudian, Jack baru mau bicara padaku. Jack kembali menjadi Jack yang dahulu. Kecuali rasaku padanya dan—mungkin, juga rasanya padaku. Kami mulai sering mengobrol lagi selayaknya teman.

Sampai sekarang, Jack dan aku sudah berteman selama lima tahun, begitu juga dengan Tama dan Jani. Antara aku dan Jack tak pernah saling membahas tentang perasaan masing-masing, semuanya kami anggap tidak pernah ada. 

Dia pernah berpacaran satu kali dengan seseorang, kemudian kandas di bulan keempat. Padahal aku mati-matian menyatukan dia dengan gadis itu, aku membuatnya berani mengatakan perasaannya pada gadis itu—hal yang tak pernah ia lakukan padaku.

Dan sebenarnya, aku merasa bersyukur ia tak pernah menyatakan perasaannya padaku. Seandainya waktu itu ia berani menyatakan persasaannya, lalu kami berpacaran dan kemudian putus, pastilah aku tidak memiliki teman seperti dia yang selalu bersedia menolongku di kala aku butuh. He he he. 

Comments

Post a Comment