Bukannya Menyayangi Artinya Menerima Segala Kekurangan?

cerita sebelumnya...

Ingat cerita sebelumnya, tentang Jack yang baru mau bicara padaku setelah satu bulan? Jack baru mau bicara padaku tepat setelah dua hari aku putus dengan Panji. 

Hubunganku dengan Panji hanya bertahan satu bulan empat belas hari. Padahal aku belum mengenal Panji lebih jauh. Aku belum sempat bermalam mingguan dengannya. Aku belum sempat memberikannya semangat ketika ia bertanding basket. 

Tetapi aku sudah terlanjur menyayanginya. Aku memang mudah sekali menyayangi seseorang, karena itu, walau umur berpacaran kami masih hijau, ketika aku dan Panji putus rasanya tetap saja menyakitkan. 

Panji suka melakukan hal-hal yang selalu berhasil membuatku tekejut dan malu. Ia tidak ragu-ragu menunjukkan perasaannya padaku. Harusnya aku bahagia karena ada seorang pemuda yang berani menunjukkan rasa sayangnya padaku, tetapi yang kurasakan hanyalah malu tiap ia melakukan itu. 

Contohnya seperti ini.


Ketika itu kelas kami mendapat giliran menjadi petugas upacara. Kelasku yang terkenal “jam karet” baru menata peralatan yang dibutuhkan ketika upacara 10 menit sebelum upacara dimulai. 

Waktu itu sudah banyak murid dan beberapa guru yang berbaris di lapangan, sedangkan kami masih sibuk mengurusi sound, mimbar, microphone dan segala macamnya. Semua berjalan baik meski, sampai Panji melakukan check sound.

“Cek satu… dua… tiga…” 

Suara Panji sudah terdengar jelas lewat sound.

“Cek… Sepuluh satu, sepuluh satu, sip!” 

Dia melakukannya lagi, dan—masih—suaranya terdengar jelas.

“Cek… Lia, pacarnya Panji yang paling baik dan cantik, ini Panji. Ini Panji… Kamu ada di mana? Cek Lia Lia… Hehehe.”

Mau punya pacar kayak dia? 

“HUUUUU…” suara sorakan terdengar, bahkan lebih keras dari suara Panji yang keluar dari sound tadi. Teman sekelasku terkikik kemudian melihat ke arahku. 

“Pacarmu tuh, Li.” 

Aku hanya melengos. “Nggak kenal.” 

Masih ada 1001 kejadian yang sama di masa pacaran kami yang dini itu. Aku nggak tahu, maksud dia melakukan itu.  Dia mau mendapat eksistensi dengan mempermalukan diri sendiri? Atau dia mau mempermalukanku?

Kalau ia mau mendapat eksistensi, dia salah cara, yang ada ia hanya mendapat malu. Tetapi jika ia ingin mempermalukanku… OH, SELAMAT! DIA BERHASIL DENGAN NILAI SEMPURNA! 

Panji menghampiriku dengan senyum lebarnya. Aku ingin marah tapi aku selalu nggak bisa marah padanya. Dia tipe orang yang tidak bisa serius. Apa saja yang hal serius yang kuungkapkan selalu dibalas dengan gurauan. Lama-lama aku menjadi kesal padanya, namun aku tidak pernah kupikirkan untuk pergi. Akhirnya, semakin lama aku semakin terbiasa dengan kekonyolan dan semakin bisa menerimanya. 

Bukankah sayang itu berarti menerima segala kekurangan pasangannya?

Dua minggu sebelum kami putus, tim basket putra dan tim basket putri sekolahku pergi ke Bandung untuk bertanding basket antar-SMA se-Jawa selama tiga hari. Selama ia berada di Bandung, aku selalu mengiriminya pesan. Tetapi tak ada satu pun pesanku yang berbalas bahkan pesanku tidak terkirim.

Aku panik. Aku bahkan tidak kenal dengan anggota satu tim-nya. Aku memang anak yang kuper pas SMA—sampai sekarang sih—aku nggak bakal repot-repot berhubungan sama seseorang kalau nggak ada kebutuhan. Jadi yaa nomor yang ada di handphoneku paling hanya anak-anak sekelas.

Dia satu-satunya anak kelas sepuluh di sana. Karena kendala itu, selama tiga hari kami sama sekali tidak berkomunkasi. Waktu itu aku galau abis. 

Malam ketiga, aku menerima pesan dari sebuah nomor asing.

Lia Lia Liaaaaaa…. Pasti kangen sama aku, ya? Pasti tiga hari nyariin aku terus, ya? :)

Kangen gundulmu!

Aku langsung berfirasat bahwa yang mengirimiku pesan barusan adalah Panji.

Kamu kemana aja?! Nomormu nggak aktif????

Hapeku hilang nih, hehe maaf yaa. Aku udah di rumah lho. Besok ketemu, yeeeey! 

Terus kalau hape hilang nggak bisa usaha buat ngabarin gitu???

Pesan itu tidak kubalas, aku ingin dia sadar kalau ia melakukan hal yang salah. Aku ingin dia tahu, kalau aku sedang marah padanya.

Satu menit…

Dua menit…

Lima menit…

Huft. 

Sampai ketemu besok :) I L U

Aku nggak jadi marah.

Panji kembali ke sekolah, tapi hal-hal memalukan yang biasa ia lakukan tidak lagi menjadi kebiasannya. Aku merasa hidupku lebih tenang, meski terkadang merasa aneh juga pada sikap Panji yang normal itu. Panji itu terlihat lebih kalem dari biasanya, padahal dia paling jago dalam hal membuatku kesal.

Suatu hari Minggu yang cerah, Panji meneleponku. 

“Halo, Njik? Tumben nelepon?”

“Ada yang mau aku omongin, Li.” Suara Panji merendah.

“Iya, kenap—“

Tut. Tut. Tut. Panji memutus sambungan telepon. Mungkin pulsanya habis, gaya sih, pake acara telepon-teleponan!

Kemudian, sebuah pesan masuk ke inbox handphoneku.

Li, sebelumnya aku minta maaf. Aku mau kita putus, Li. Kamu terlalu baik buat aku. Kamu terlalu sabar nghadepin aku. Kamu pasti dapet yang lebih baik dari aku. Makasih ya.

Begitu saja. 

Untuk pertama kalinya aku merasakan keseriusan Panji, tetapi ketika ia serius aku langsung merasakan patah hati. Tahu begini, sepertinya lebih baik ia jadi orang yang memalukan saja. 

Aku tidak membalas pesannya, yang kulakukan hanya mencari nama kontak Panji kemudian menghapusnya dalam daftar nomor, berharap otakku juga melakukan hal yang sama untuk ingatan tentangnya.
Berminggu-minggu berlalu, berita aku putus dengan Panji ditanggapi dengan ‘bahagia’ oleh Jani dan Tama. 

“Bagus deh, kamu putus sama dia, kan dia nggak bikin kamu malu jadinya… Cowok kayak gitu nggak cocok dijadikan pacar, bisanya cuma bikin malu.” 

Aku hanya menanggapi perkataan pedas Tama dengan senyuman tipis, aku ingin mengiyakan kata-katanya, tetapi hatiku justru menyayangkan putusnya hubungan kami.

Comments

  1. karena mencintai artinya saling melengkapi dan ada saat suka dan duka :)

    ReplyDelete

Post a Comment