Posts

Showing posts with the label Life Project

#10 Jangan Lakukan Lagi Ya, Aku

Hal yang berjanji tidak akan kulakukan lagi. Errrr... Gegara paketan habis aku nggak bisa nge-posting tantangan hari ke-10 dengan tepat dan terpaksa molor satu hari.  PFT. Challanger macam apa!  Jadi begini, kita langsung saja ke inti postingan. Aku sering sekali merenung sendiri. Apa ya namanya, meditasi diri? Merenung tentang hal-hal yang sudah kulewati, pelajaran apa yang sudah kuambil dari setiap kejadian, kemudian bertanya pada diri sendiri tentang mau jadi apa aku besok? Gimana perasaanku sekarang? Intinya aku ngobrol dengan diri sendiri.  Hasil mengobrol biasanya, saku akan bernapas lega dan bersyukur dengan apa yang telah terjadi.  Tapi nggak jarang juga obrolan kami (aku dan aku) berjalan tidak lancar, terkadang setelah mengobrol, pikiranku jadi malah kalut.  Persoalannya selalu satu: jika obrolan kami tidak lancar hal tersebut dikarenakan aku "masih" menyesali keputusan hidup yang tidak sepenuhnya dari hati. Misalnya, ak...

#9 Mas, Jadi Sebenernya...

Menulis sebuah surat untuk seseorang. Jangan kege'eran dulu. Aku nulis ini bukan karena sepenuhnya aku suka sama kamu (berarti setengahnya iya), tapi pas aku berpikir "mau bikin surat buat siapa, ya?" yang muncul di kepalaku langsung kamu. Mungkin karena kita terlalu sering ketemu. Delapan jam sehari. Enam hari seminggu.  48 jam seminggu. 1440 jam sebulan, dikali tiga karena udah tiga bulan kita ketemu: 4320 jam. 259200 menit dan 15552000 detik pertiga bulan. Lihat!

#8 Aku Nggak Begini, Suer!

Fakta yang berlawanan dengan opini orang lain tentang diriku? Langsung aja, nggak usah pake basa-basi, ya. Soalnya ini udah pukul sembilan malam, anak sekolah nggak bagus tidur larut. Besok juga harus pendalaman materi pukul 06:30.  Sesuatu yang berlawanan dengan opini orang tentangku adalah: 1. Dikira Jones (Jomblo Ngenes), padahal Jojoba (Jomblo-Jomblo Bahagia) Mungkin karena aku sering banget godain mas-mas di kantor dan keseringan curcol nggak tahu waktu, apalagi curcolannya bawa-bawa perasaan, hati, mantan, jodoh dan kawan-kawannya aku jadi kelihatan ngenes banget gitu. Mungkin banyak yang berpikir aku godain dan curhat nggak tahu waktu itu efek dari aku kelamaan jomblo. Padahal nyatanya nggak begitu, aku suka godain orang ya emang karena suka aja, kalau pun aku nggak jomblo rasanya aku tetep rajin gombalin orang, kok. Hehe.Aku masih santai aja sama status jomblo sekarang, nggak ngebet punya pacar. Enggak ngebet pengin PDKT sama siapa. Intinya aku lagi menikmati m...

#7 Permintaan Bapak Kepada Melia

Image
Rumah ini tidak sama lagi dengan ketika terakhir kali aku ke sini beberapa bulan yang lalu. Aroma bunga melati yang kuhirup sudah hilang, kembali berganti dengan aroma rumah yang familiar di hidungku.  "Kamu tidur sama Ibu, kan? Pakaianmu langsung disatukan sama pakaian-pakaian Ibu aja..."  "Pakaian Bapak?" aku bergumam pelan, aneh rasanya menyebut Bapak.  "Sebagian besar sudah Ibu sumbangkan..." Nada suara Ibu tak kalah paraunya dengan suaraku.  Aku mengangguk patuh, tapi masih enggan beranjak dari ruang keluarga. Mataku menyusuri satu persatu foto yang memenuhi ruangan. Foto masa kecil, wisuda, pernikahan, lebaran dan semua momen yang diabadikan tak hanya menjadi pengias buku album. Bapak selalu mencetaknya beberapa kemudian ditempelkan pada pigura, lalu memajangnya di ruang keluarga. nemu gambarnya di pinterest. "Biar Bapak sama Ibu merasa kalau anak, menantu dan cucu kami ikut menonton televisi juga. Biar kami nggak merasa h...

#6 Kebanggaan Receh Yang Membawa Kebahagiaan

Ceritakan di mana kamu membanggakan sesuatu di saat orang lain meremehkan!  Aku nggak pintar-pintar amat. Rada sengklek, apalagi urusan hitung-menghitung. Lihat satu angka aja udah pusing duluan. Apalagi ditambah X dan Y,  bisa-bisa aku pingsan, tapi sebelumnya muntah dulu.-_- Aku juga nggak cantik-cantik amat. Yah, karena yang cantik itu mbosenin, jadi aku lebh suka dibilang manis. Yah, soal fisik dan otak emang nggak ada yang bisa dibanggakan. Untungnya aku masih hidup, hehe. Tema kali ini bikin aku muter otak banget. Nyari sesuatu yang bisa kubanggakan itu kayak nyari jarum di tumpukan jerami atau kayak nyari jodoh yang alim dan budiman, tapi nyarinya di diskotik. Hmmm... Tapi ada satu. Satu hal yang mungkin orang lain nggak punya, dan aku punya. Apa itu? Teman. Enggak hanya satu, dua. Aku bersyukur punya banyak teman dekat yang memiliki beragam karakter. Mau yang ceplas-ceplos dan dengan gampangnya bilang 'bego' kalau aku lagi salah? Adaaa. Mau tem...

#5 Nonton Ala Ujian Nasional

Image
Apa film yang paling berkesan buat kamu? Ah, dari lima hari, aku sangat menyukai topik ini. Menuliskan tentang film. Tiga, hanya boleh menyebutkan tiga film yang paling berkesan untukku. Padahal kalau bisa sepuluh, mungkin aku mampu menuliskan semuanya. Tapi dengan jumlah yang terbatas ini, aku jadi bener-bener mikir, kira-kira film apa yang bakal kutuliskan, jadi ketiga film ini bukan hanya favorit, tetapi meninggalkan bekas di relung hatiku. Tsah.  Apa aja itu? INSIDIOUS CHAPTER 3 Buat yang belum tahu, Insidious ini film bergenre horor yang paling ditunggu-tunggu waktu itu. Bioskop selalu penuh ketika sedang memutar di film ini. Aku dan ketiga temanku (Monika, Sesil dan Cintia) yang ngakunya penggemar film horor juga nggak mau ketinggalan buat nonton film ini. Sebelumnya, mereka bertiga juga udah pemanasan nonton Chapter 1 dan 2-nya di kos. "Mbak, maaf. Insidious-nya masih ada empat kursi, tapi semuanya terpisah, Mbak. Yang berjejeran udah habis..."  ...

#4 How I Met Your Ex

Image
Bagaimana pertemuan pertamamu dengan dia? Mungkin hal biasa kalau kita bertemu dangan pacarnya mantan.  Tapi, adakah yang pernah bertemu dengan mantannya mantan, padahal sebelum ini kalian tidak pernah bertemu sebelumnya? Kami bertemu tanpa sengaja ketika aku dan dia sedang mengantri di bagian akademik fakultas. Kebetulan kami satu fakultas, tetapi karena kami berbeda prodi, kami berkuliah di gedung yang berbeda dan kemungkinan untuk berpapasan sangat kecil. Dengan kemampuanmata-mata yang setara dengan mata-mata CIA, aku sering men- stalking semua mantannya mantan yang saat itu masih jadi pacarku. Termasuk dia, aku tahu dan hapal wajahnya, meskipun aku nggak pernah bertatapan langsung dengannya. Saat bertemu dengannya, statusku sudah menjadi "mantan tapi masih ngarep" alias masih sering kangen dan masih pengen balikan dengan si mantan.

#3 (Rencana) Pencapaian 2017

Apa pencapaian yang ingin kamu gapai di tahun 2017?  Kamu punya rencana pencapaian atau zaman sekarang bahasa kerennya disebut resolusi di tahun 2017 ini? Tahan dulu. Tanya dulu sama diri sendiri, kamu membuat resolusi itu memang karena sesuatu yang menjadi tujuan dan membuat kamu lebih baik atau hanya sekadar ikut-ikutan biar keren? Biar kalo ada official account di Instagram nanya "apa resolusi 2017 kamu?" kamu jadi bisa balas di kolom komentar? Kalau memang kamu hanya ikut-ikutan, sebaiknya kamu berhenti. Karena nggak ada gunanya kamu punya daftar resolusi berlembar-lembar, tapi niat awal kamu hanya ikut-ikutan doang.  Coba tengok ke belakang, tahun lalu, misalnya. Apa kamu juga punya resolusi? Apakah semua resolusi itu tercapai? Kalau enggak, kamu harus tanya sama diri sendiri lagi, "apa, sih, tujuanku bikin resolusi?". Hal yang sering terjadi sebuah resolusi nggak tercapai adalah niat awal bikin resolusi. Kalau niat awal bikin resolusi hanya kar...

#2 Menangis Histeris Hingga Lupa Diri

Image
Apa hal yang kemungkinan besar akan membuatmu histeris? Agak aneh dengan kata histeris ini, karena histeris merupakan kata yang hampir tidak pernah kupakai di tulisan atau perkataanku. Aku bingung menempatkan kata histeris, ia merupakan kata yang merujuk pada sesuatu bersifat positif atau sebaliknya? Buatku, mengetahui kata yang akan kutulis itu penting, demi menjauhkan diri dari kesalahpahaman.  Buat kamu yang bingung mengartikan sebuah kata atau ingin tahu sebuah kata merupakan kata baku atau  bukan, kamu bisa langsung cus ke website resmi KBBI milik negara. Percayalah, menulis akan 1000 kali lebih mudah ketika kita sudah mengetahui website satu ini.  Jadi, aku langsung mencari arti kata histeris, lalu muncul arti seperti ini:   his.te.ris /histéris/     a bersifat histeria: dia disambut dengan teriakan-- Belum membantu, karena masih ada kata histeria yang belum kutahu maknanya. Jadi, mari kita cari apa itu histeria. ...

#1 Tentang Kekasih Idaman

Image
Bagaimana tipe kekasih yang kamu dambakan? Manis. Baik. Ramah. Setia. Perhatian. Pengertian. Kira-kira begitu yang kutuliskan pas mengisi kolom "pacar idaman" di biodata ketika aku dan teman-temanku menggelar sesi tukar biodata pakai kertas binder di zaman Sekolah Dasar. Kalau dipikir-pikir sekarang, kok aku kayaknya kebelet puber gitu, ya? Kecil-kecil udah mikirin pacar. :| sumber: google. Semakin gede, semakin kenal sama banyak orang. Keinginan untuk punya pacar sesempurna keinginan ketika SD hanya menjadi sebuah angan-angan. Mungkin memang ada orang yang manis, baik, ramah, setia, pengertian, dan perhatian, tetap semakin dewasa aku sadar bahwa untuk berhubungan dengan orang lain, nggak cukup dengan enam sifat itu. 

Bukannya Menyayangi Artinya Menerima Segala Kekurangan?

Image
cerita sebelumnya... Ingat cerita sebelumnya, tentang Jack yang baru mau bicara padaku setelah satu bulan? Jack baru mau bicara padaku tepat setelah dua hari aku putus dengan Panji.  Hubunganku dengan Panji hanya bertahan satu bulan empat belas hari. Padahal aku belum mengenal Panji lebih jauh. Aku belum sempat bermalam mingguan dengannya. Aku belum sempat memberikannya semangat ketika ia bertanding basket.  Tetapi aku sudah terlanjur menyayanginya. Aku memang mudah sekali menyayangi seseorang, karena itu, walau umur berpacaran kami masih hijau, ketika aku dan Panji putus rasanya tetap saja menyakitkan.  Panji suka melakukan hal-hal yang selalu berhasil membuatku tekejut dan malu. Ia tidak ragu-ragu menunjukkan perasaannya padaku. Harusnya aku bahagia karena ada seorang pemuda yang berani menunjukkan rasa sayangnya padaku, tetapi yang kurasakan hanyalah malu tiap ia melakukan itu.  Contohnya seperti ini.

Cinta Pertama(nya)

cerita sebelumnya... Bel tanda usai sekolah sudah berbunyi. Refleks, aku menutup buku apa saja yang terbuka di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Bel memang seperti sihir, apalagi bel tanda pelajaran usai. Aku masih menata buku-buku, sampai Jani menyentuh lenganku, memberi isyarat untuk menghentikan aktivitasku dan melihat ke arah papan tulis. Aku melihat ke arah papan tulis, seseorang sedang berdiri di sana, siap untuk meminta perhatian dari anak sekelas. “Teman-teman jangan pulang dulu, ya! Ada yang mau aku omongin.”  Suasana kelas yang tadinya ramai, pelan-pelan menjadi tenang. Kemudian, orang yang berdiri di depan kelas tadi berjalan ke belakang kelas, dan menghampiriku.  “Temenin aku ke depan, yuk?”   Aku kaget—tentu saja. “Buat apa?” Jantungku mulai berdetak tak keruan. 

Perpisahan Termanis

Image
cerita sebelumnya... Libur kenaikan kelas, aku dihantui oleh telepon dan sms iseng yang kerap kali menganggu. Awalnya nomor iseng ini hanya mengsmsku sehari sekali, menjadi dua kali sehari, lalu tiga kali sehari. Hai, leh ‘nal? Semua pesan bunyinya sama dan tak pernah kutanggapi. Mungkin kesal, nomor iseng ini mulai ekstrim, ia meneleponku, namun ketika aku angkat dia langsung mematikan sambungan telepon. Orang ini pun meneleponku tak kenal waktu, pernah ia menelepon ketika tengah malam.  Akhirnya aku mengganti nomor handphone. Dan sejak itu nomor iseng yang sering mengganggu tak pernah lagi menghubungi sampai aku masuk sekolah. Suatu malam, tiba-tiba nomor iseng itu menelepon. Walau tidak kusimpan, tetapi aku masih sedikit hapal dengan nomornya. “Halo.”  “Halo, ini Lia?” kali ini si penelepon tidak menutup sambungan.

Siapa Menyakiti Siapa?

Image
cerita sebelumnya... Siswa-siwi asrama tingkat dua merupakan anak-anak paling netral di sekolahku. Kami masih terikat peraturan asrama, yang terkadang kami langgar dan siasati agar terbebas dari hukuman. Peraturan senior tidak lagi berpusat pada kami. Meski kami masih harus berhati-hati dengan mereka. Tetapi kami telah terbiasa. Senioritas bukanlah menjadi masalah besar untuk kami, murid-murid tingkat dua.  Di sekolah ini, aku tak pernah mengenal anak laki-laki mana pun selain teman seangkatanku—tambahan untuk Kak Arif dan “kakakku” tentu saja. Suatu hari, aku menemukan secarik kertas di halaman terdepan buku catatan.  Nanti sore. Lapangan basket. -Kenny

Kakak-Adik Zone

Image
FUFUFUFUFU~

Apa Dia Sakit Hati?

Image
"Bacanya pake cermin."

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

Image
agak nggak rela sih masang foto ini. secara tokoh yang aku ceritain di sini nggak ada mirip-miripnya sama Shinichi-_-

I N U

Jika harapan itu kembali dan kamu yang membawanya, maka aku mohon biarkan harapan itu berubah menjadi kenyataan. Jika Tuhan memberikan bentuk nyata kasih sayang-Nya lewat kamu, maka aku mohon biarkan kasih sayang itu menetap, sehingga aku dapat terus bersyukur karenanya. Karena aku tidak bisa hidup sendiri. Bagiku, sendiri adalah awal untuk kegelapan. Karena itu, aku butuh harapan yang kamu bawa. Karena itu, aku butuh kasih sayang darimu. Karena itu, aku membutuhkanmu di setiap celah kebahagiaan dan kesedihanku. Yogyakarta, 18102015

Untuk kamu, yang selalu bersembunyi - "Hide and Seek"

Sampai kapan kamu mempertahankan sikapmu itu?  Berlari dan bersembunyi dariku. Aku lelah mengejarmu. Aku lelah mencarimu. Aku memang selalu bisa menyamai langkahmu, namun ketika tubuh kita sudah sejajar, tiba-tiba kamu menghilang. Kamu bersembunyi, entah di mana. Ketika aku sadar, kamu sudah berlari jauh di depanku.  Kamu tahu? Sesungguhnya sampai kapanpun aku tidak akan lelah. Aku akan terus mengikuti jejakmu dan mencarimu. Dan ketika itu terjadi, aku akan berkata padamu, “Kamu tidak perlu berlari dan bersembunyi lagi. Aku mengetahui yang selama ini kamu bawa lari dan kamu sembunyiakan dariku, karena sebenarnya kita menyembunyikan sesuatu yang sama, kita sama-sama menyembunyikan rasa sayang satu sama lain.” #SehariMenuliSatu #Day3 (@swaragamafm)

Langkah Bersamamu - "Sepatu"

Ini jalan yang kupilih. Entah salah. Entah benar. Salah atau benar hanyalah sesuatu yang relatif untuk saat ini. Langkahku bisa saja memilih jalan yang benar, namun jika aku melangkah dengan tidak hati-hati maka jalan yang benar justru bisa menjadi bencana. Sebaliknya, jika aku memilih jalan yang salah tetapi melangkah hati-hati dan disertai dengan doa, maka jalan yang salah tadi akan membawaku ke ujung jalan yang indah.  Ketika aku memilih, menjalani prosesnya, kemudian aku sampai di ujung jalan, barulah aku mengerti. Dan dari semuanya yang aku lewati, kamu menemaniku. Saat aku memilih jalanku, saat aku melewati prosesnya saat ini, dan kelak saat aku ada di ujung semua ini. Kamu, yang ada di setiap langkahku. Yang mengerti kebimbanganku saat memilih. Yang mengerti perjuangan serta penderitaan ketika aku berusaha. Yang ikut melompat ketika aku ada di ujung jalan bahagia nanti. #SehariMenulisSatu #Day2 #SwaragamaFM ( @swaragamafm )