#9 Mas, Jadi Sebenernya...

Menulis sebuah surat untuk seseorang.
Jangan kege'eran dulu. Aku nulis ini bukan karena sepenuhnya aku suka sama kamu (berarti setengahnya iya), tapi pas aku berpikir "mau bikin surat buat siapa, ya?" yang muncul di kepalaku langsung kamu.

Mungkin karena kita terlalu sering ketemu.
Delapan jam sehari. Enam hari seminggu.  48 jam seminggu. 1440 jam sebulan, dikali tiga karena udah tiga bulan kita ketemu: 4320 jam. 259200 menit dan 15552000 detik pertiga bulan.

Lihat!

Gara-gara kamu sukanya nanya kepastian jumlah dengan ke aku, aku yang awalnya lebih senang mengatakan "banyak" atau "sedikit", ""sering" atau "kadang-kadang" jadi ikut-ikutan mengatakan sesuatu dengan hitungan angka. 

Aku nggak bisa bayangkan, kalo nanti kamu punya pacar gitu, terus ntar suatu hari kalian janjian dan pacar kamu telat, terus dia bikin alasan gini:

"Aduh, maaf ya. Tadi aku kecegat lampu merah banyak dan lama banget."
Terus kamu dengan entengnya jawab. "Berapa banyak lampu merahnya? Berapa menit?" 
Pacar kamu sewot, dikiranya kamu nyindir dia, padahal kamu memang mau tahu beneran. Apalagi dia lagi PMS, cewek PMS yang tingkat badmood-nya biasa 70% gara-gara kamu naik jadi 1200%.
"YA BANYAK! KAMU KENAPA SIH SEWOT AMAT! KALO NGGAK MAU AKU TELAT MAKANNYA DIJEMPUT! HUH! YAUDAH KITA PUTUS AJA. AKU NGGAK KUAT SAMA KAMU!" 

Akhirnya kallian putus cuman gara-gara ditanyain angka sama kamu. Gara-gara dia lagi PMS juga, sih. Jadi, intinya jangan macam-macam sama cewek PMS. 

Itu hal pertama yang kubingungkan dari kamu. Kenapa semua hal, aku ulangi SEMUA HAL harus kamu tanya dengan kepastian angka?

Kedua, kenapa ya, tiap kita ngobrol berdua hal yang diobrolin hanya hal-hal umum? 

Bukan berarti aku ngarep kita harus ngobrol intens ya. Cuman rasanya, aneh aja, duduk berdua tapi yang diobrolin hanya hal-hal yang umum. Mungkin aku aja yang rada sentimental, secara aku orangnya bawel, nggak tahan kalo nggak ngobrol sama orang. Aku punya goals dalam berhubungan atau sekedar ngobrol sama dia. Aku bisa tahu dia, sisi yang nggak ditunjukkannya di muka umum. Aku pengin orang yang ngobrol sama aku merasa dekat sama aku. Bahkan, untuk orang yang baru duduk di sebelahku dua menit aja, aku udah tahu seluk-beluk keluarganya. Tapi kenapa kita enggak?


Kita dekat, tapi rasanya kamu jauh, mas. Itu emang nggak masalah buat aku, tapi itu CUKUP MENGANGGU, ehm, SANGAT MENGGANGGU sebenarnya. Hehe

Udah, gitu aja.
Semoga cepat atau lambat pertanyaanku terjawab. Baik secara langsung, atau dijawab oleh waktu. Amin.


Tulisan ini disertakan dalam rangka memeriahkan #10DaysKF

Comments