Wednesday, 11 January 2017

[ASAL REVIEW] Elegi Rinaldo, karya Bernard Batubara

Judul: Elegi Rinaldo
No. ISBN: 9786026051400
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Falcon Publishing
Tanggal terbit: Desember, 2016
Jumlah Halaman: 204
Jenis Cover: Soft Cover
Kategori: Romance

Elegi Rinaldo berisi cerita tentang seseorang berambut kribo bernama Rinaldo yang  memiliki sudut pandang berbeda tentang pernikahan. Jika semua orang ingin menikah, saling berbagi kasih sayang dan bahagia bersama pasangan hidup kemudian menua lalu terpisah karena maut.  Bagi Rinaldo, pernikahan adalah sesuatu yang konyol.
"Demi imbalan macam apa dia mau memerangkap dirinya dalam penjara yang dinamai pernikahan? No, not in my entire life, not in this life, Aldo punya hidup normal sendiri dan dia tidak mau merusaknya." - Hal. 11
Karena pendapatnya itulah sampai ia menginjak 28 tahun, Aldo belum menikah dan tak memiliki kekasih hati. Suatu hari, Rinaldo bekerja sama dengan Jenny, wanita yang Aldo kira akan memberatkan dan menghambat pekerjannya. Tetapi secara kebetulan beberapa jam setelah pertemuan pertama, mereka berdua dipertemukan lagi dan saat itu juga muncul benih-benih ketertarikan Aldo terhadap Jenny.

Elegi Rinaldo berlanjut menceritakan kelanjutan hubungan mereka yang sebenarnya nggak ribet-ribet amat, tetapi dibikin ruwet sama mereka berdua.

Dari sekian banyak novel yang ditulis Bang Bara, aku baru baca dua: Cinta Dengan Titik dan Elegi Rinaldo. Selain itu, aku nggak pernah lagi membaca karya Bang Bara, walaupun novelnya berseliweran di timeline twitter. Entah kenapa, aku nggak pernah berniat untuk membeli salah satunya.

Sampai kemunculan Elegi Rinaldo.

Sebenarnya yang mendorong aku untuk membaca  Elegi Rinaldo karena pertama, dari sinopsisnya aku tahu kalau Elegi Rinaldo nggak bakal bikin aku geger otak karena kata-kata yang mendayu ala Bang Bara yang sulit kupahami. Kedua, karena tema cerita yang dipilih Bang Bara adalah penderitaan, lebih spesifik tentang seseroang yang pernah mengalami kehilangan dan trauma terhadap kehilangan itu.


Dengan tema yang kompleks seperti kehilangan, awalnya aku berekpektasi bahwa ujung dari cerita akan menyedihkan. Atau setidaknya, kehilangan itu sendiri bisa dideskripsikan lebih mendalam agar pembaca ikut merasakan kehilangan dan menyadari itu bukan perkara main-main. Aku udah berpikir kalau Aldo itu orang yang sangat menyedihkan. Gimana ia nggak bisa menjalani hidup setelah kehilangan. Gimana ia selalu merasa kesepian., dan hal lain yang bikin aku kasihan sama si Aldo. Tapi ketika aku membaca Elegi Rinaldo, Aldo tenyata nggak senelangsa itu. Aku nggak merasa kasihan sama Aldo.

Tapi, nggak papa lah. Mungkin dikarenakan pemilihan sudut pandang orang ketiga membuat Bang Bara terbatas geraknya untuk menggambarkan perasaan kehilangan itu sendiri.

Agak menganehkan bagaimana dengan mudahnya aku merasa senang ketika selesai membaca Elegi Rinaldo, mengingat cerita Elegi Rinaldo yang minim twist.

Aku suka banget dengan yang namanya twist dalam cerita. Selain tema, aku sangat mengharapakan terdapat kejutan-kejutan yang bisa menggugah emosi ketika membaca novel atau menonton film.

Satu-satunya twist yang bisa kutemukan di sini adalah tentang penyakit Tante Fitri yang sebenarnya sudah kutebak ketika Tante Fitri mulai batuk-batuk nggak berhenti.

Twist cerita pada Elegi Rinaldo nggak menarik.

Tapi itu nggak jadi masalah untuk novel berjudul Elegi Rinaldo ini. Aku nggak susah-susah ngedumel "ini mana twist-nya, sih?" karena aku memang nggak butuh itu. Tulisan keren, mengalir dan nggak mengalun-alun panjang yang ditulis Bang Bara bikin aku betah membaca sampai akhir. 

Karakter-karakter yang ngeselin dan bikin geregetan sukses bikin aku ngamuk-ngamuk. Mereka udah gede, tapi kenapa masih labil kayak anak abege?

Kalau cemburu bilang aja cemburu.
Kalau suka bilang aja suka.
Selesai.

Tapi kalau gitu, novelnya jadi cuman dua halaman, ya? Hehehe *digampar sandal sama Bang Bara*😅
Aku memberi....
  ★★★★

Satu bintangnya nggak ada, soalnya aku nggak bisa membayangkan rupanya Rinaldo yang punya rambut kribo. Aku juga nggak suka cowok berambut kribo. Kenapa harus kribo, sih, Bang?

No comments:

Post a Comment