Kangen Jogja

Postingan pertama di 2017 (masih dengan mencuri-curi waktu di sela-sela waktu kerja)😆

Wacananya aku pengin posting highlight 2016 dan ingin memposting resolusi di 2017 kayak tahun lalu. Tapi apalah daya, aku yang sudah menjadi wanita karir sejati yang waktu libur harus dimanfaatkan dengan baik dengan tidur, ditambah dengan pengaruh hormon males gegara kedatangan tamu bulanan bikin aku sama sekali enggak bernafsu buka laptop buat menulis.

Padahal hutang review juga belum kelar. 😢
Baca juga: Moments from 2015

Malam tahun baru kemarin seperti biasa, aku nggak kemana-mana. Agak kesal juga, karena sebenernya aku sudah ada rencana mau keluar, tetapi nggak dibolehkan karena berbagai alasan. Pft.
 
Balas dendam karena malemnya nggak keluar, tanggal 1 Januari 2017 sekitar pukul 9-an aku keluar rumah. Bukan murni karena balas dendam juga, sih. Aku keluar karena ada keperluan yang mengharuskan aku untuk ke Malioboro. Kakak kelasku semasa SMP akan berlibur ke Jogja karena itu ia minta tolong untuk aku mengecek reservasi hotel sekitaran Malioboro untuk tanggal 4 - 6 Januari.
 
Aku memilih jam pagi, karena sudah pasti siang sedikit saja, akan macet di mana-mana. 

1 Januari 2017 pukul 9 pagi jalanan Jogja nggak sepenuhnya lenggang, tapi nggak padet juga. Karena matahari belum terik-teriknya jadi ritme pagi itu masih sejuk. 
 
Aku memarkirkan sepeda motor di tempat khusus parkir yang ada di sisi rel kereta. Tempat parkir yang udah cukup lama dijadikan tempat parkir khusus sepeda motor pengunjung Malioboro. Tapi baru sekali ini aku memarkirkan sepeda motorku di sana. Aku nggak pernah ke Malioboro naik motor sendirian. Semenjak kuliah, aku juga sudah jarang sekali ke Malioboro. Ke sana hanya untuk keperluan mengantarkan keluarga yang sedang berlibur ke Jogja.

Buat apa pada hari biasa aku ke Malioboro? Aku tinggal di Jogja. Aku bisa kapan saja ke sana, padahal  pada kenyatannya aku nggak pernah ke Malioboro kalau nggak lagi kedatangan keluarga jauh yang mau piknik ke Jogja. 

Semua pasti begitu, penduduk lokal pasti sangat jarang mendatangi wilayah wisata kotanya sendiri. Ya, nggak?

Setelah berjalan beratus-ratus meter sendirian, mendatangi beberapa hotel dan bertanya tarif hotelnya aku duduk di salah satu bangku yang tersedia di sisi trotoar Malioboro. Beristirahat sambil ngeliatin orang yang lalu lalang.
 
Kalau dipikir-pikir, aku udah lama banget nggak jalan sendirian kayak hari ini, ternyata kangen juga. Dulu, aku sering jalan dari depan kampus-belakang kampus kalau nggak ada yang jemput. Jalan dari kos-fakultas. Pasang earphone, terus dengerin musik. Pokoknya damai bangetlah.
 
Tempat aku duduk sekarang merupakan pembaharuan terbaru dari Malioboro. Ini pertama kalinya aku ke Malioboro setelah trotoarnya dirombak jadi penuh dengan bangku-bangku  Kawasan Malioboro jadi bersih dan ramah pejalan kaki. Nggak ada sepeda motor yang berjejer-jejer. 

Sepuluh menit pertama aku menghabiskan waktu untuk memandangi orang-orang yang lewat. Semua berpasangan atau berkelompok. Mungkin aku satu-satunya yang sendirian di sana. Mereka saling bergurau dan berfoto-foto. Ada pasangan yang punya style yang sama. Bajunya sama. Pokoknya seolah ingin menunjukkan dunia kalau mereka itu cocok banget. 

Waktu itu aku nggak berpikiran untuk iri. Padahal kalo dipikir-pikir aku ngenes banget ya. Di tengah kota, di saat semua orang jalan sama keluarga, pacar atau temannya, aku malah duduk sendirian. Merhatiin gimana bahagianya mereka. Tapi aku nggak merasa ngenes, nggak tahu kenapa, perasaan damai yang kurasakan sekarang lebih mendominasi ketimbang perasaan ngenes itu.

Setelah puas lihat orang-orang, aku ganti melihat ke arah jalanan. Masih belum macet. Kendaraan masih bisa berjalan lancar, kadang terdengar suara tuk tik tak tik tuk dari sepatu kuda yang sedang menarik andong.

Kemudian, aku nggak bisa menahan diri untuk nggak mengajak ngobrol orang yang duduk di sebelahku.

"Dari mana, Bu?"

Dari pertanyaan satu itu, aku dan Ibu yang disebelahku mengobrol hingga 30 menit lamanya. Aku tau Ibu tadi berumur 68 tahun. Beliau dari Bekasi dan sedang berlibur ke Jogja bersama suami, anak, menantu dan cucu-cucunya. 

Pas si Ibu ngomong gitu, dalam pikiranku aku menggambarkan kalau yang sedang berlibur adalah keluargaku. Bukan keluarga si Ibu. Aku jadi kangen liburan sekeluarga gitu. Liburan se-keluarga besar terakhir adalah lebaran dua tahun lalu. 

"Saya itu udah sejak tahun 90an ke Jogja. Jogja itu yang gini-gini aja, tapi bikin kangen terus... Setiap pulang dari sini pasti udah pengin ke sini lagi."
Ujar si Ibu. Aku membenarkan dan ganti bercerita bahwa ibu-ku sudah berkali-kali ke Jogja tapi kayak nggak pernah puas. Aku sendiri baru sadar, dari semua pemikiranku tentang kota Jogja yang nyatanya semakin kemelut. Macet dan isu kekerasan di mana-mana, ternyata masih ada orang yang selalu ingin ke Jogja. 

Nggak hanya Ibu yang duduk di sebelahku ini, tetapi bahkan ibuku sendiri, keluarga-keluargaku yang merasa ke Jogja nggak cukup satu kali. 

Bagi mereka, Jogja itu candu.
Mungkin Jogja memang nggak seperti dulu lagi. Jogja udah jadi kota macet yang kadang bikin orang kesal sampai misuh-misuh. Mungkin Jogja juga udah nggak se-aman dulu. Nggak se-nyaman dulu. Pencurian, perampokan, begal ada di setiap sudut. 

Tapi Jogja  tetaplah jadi kota yang bikin kangen. Jogja selalu bikin semua orang jatuh cinta, termasuk aku.

Usai mengobrol, ponselku bergetar. Ayah menelepon. 

"Lagi di mana, Nak?"
"Lagi di Malioboro." jawabku pendek. Aku masih kesal, karena semalam Ayah-lah yang tidak membolehkan aku keluar.
"Sama siapa?"
"Sendiri laaah, sama siapa lagi?"
"Makannya carilah 'kawannya' biar ke mana-mana nggak sendiri!" gelak Ayah. 

'Kawan' maksud Ayah di sini adalah pacar. Iya, P A C A R. Sejak lulus, Ayah emang sering banget nanyain aku tentang satu itu. Takut banget anaknya nggak laku, ih!

"AAAA APA SIIH?" aku menutup sambungan. 

Habis itu aku ngelamun lagi, ngeliatin orang lewat, ngeliatin andong lewat, ngeliatin mobil dan motor, ngeliatin si Ibu yang sekarang lagi bersama keluarganya. Tiba-tiba terbesit keinginan yang enggak muluk-muluk, tapi menurutku romantis abis.

"Kok aku jadi pengin ke Malioboro lagi, ya? Jalan dari ujung ke ujung, terus duduk di salah satu bangku di sisi jalan Malioboro dan ngobrol sampai nggak tahu waktu. Berdua aja."

Tapi sama siapa?😔

Comments