#7 Permintaan Bapak Kepada Melia

Rumah ini tidak sama lagi dengan ketika terakhir kali aku ke sini beberapa bulan yang lalu. Aroma bunga melati yang kuhirup sudah hilang, kembali berganti dengan aroma rumah yang familiar di hidungku. 

"Kamu tidur sama Ibu, kan? Pakaianmu langsung disatukan sama pakaian-pakaian Ibu aja..." 
"Pakaian Bapak?" aku bergumam pelan, aneh rasanya menyebut Bapak. 
"Sebagian besar sudah Ibu sumbangkan..." Nada suara Ibu tak kalah paraunya dengan suaraku. 

Aku mengangguk patuh, tapi masih enggan beranjak dari ruang keluarga. Mataku menyusuri satu persatu foto yang memenuhi ruangan. Foto masa kecil, wisuda, pernikahan, lebaran dan semua momen yang diabadikan tak hanya menjadi pengias buku album. Bapak selalu mencetaknya beberapa kemudian ditempelkan pada pigura, lalu memajangnya di ruang keluarga.

nemu gambarnya di pinterest.

"Biar Bapak sama Ibu merasa kalau anak, menantu dan cucu kami ikut menonton televisi juga. Biar kami nggak merasa hanya tinggal berdua." 

Suara Bapak terdengar sangat dekat, seolah Beliau berada di sampingku dan turut menikmati hasil karyanya. Dadaku seketika sesak. Rasanya aku tidak tahan lagi untuk menahan air mata yang sedari tadi kutahan. 

"Mel, ayo makan dulu..." Tiba-tiba Ibu menepuk punggungku. 

Cepat-cepat kuhapus air mata, aku bahkan tidak sadar Ibu sudah berada di sampingku. "I.. Iya, Bu." 

Selama di meja makan, hanya denting sendok dan garpu saja yang terdengar. Tak ada satu pun pembicaraan yang meluncur dariku atau dari Ibu. Aku terlalu takut mengeluarkan suara. Aku takut perkataanku akan membuat kami akan menguak kesedihan yang masing-masing kami pendam.

"Kamu nggak papa, meninggalkan pekerjaanmu di sana hanya buat Ibu?" 

 Ibu memulai percakapan. 

Aku tersenyum samar. "Kalau bukan aku yang bisa jaga Ibu di sini, siapa lagi?" 

"Lihat Ibu, Nak..."

Aku mengangkat kepala, menatap Ibu. Kusadari, Ibu semakin tua. Keriput-keripu di sudut matanya semakin banyak. Matanya sayu.

"Maafkan Ibu jika membuatmu susah. Ibu menyayangimu, sama seperti Bapak menyayangimu. Jangan jadikan Ibu atau permintaan Bapak jadi beban untukmu."

Tanpa dikomando, air mataku mengcuur deras. Berkebalikan dengan Ibu yang justru terlihat tenang, walau aku melihat lapisan air mata tipis yang memehuhi bola mata Ibu.

Tepat dua hari setelah kematian Bapak, ketika aku ingin kembali ke tanah rantau, Ibu memberiku sepucuk surat, Surat yang ditulis oleh Bapak.

Di perjalanan menuju pulau seberang tempatku bekerja. Di dalam burung raksasa yang melewati gumpalan awan putih, aku membaca surat tersebut.

Untuk Ananda Tercinta, Melia Purnama 
Nak, memilikimu adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada Bapak dan Ibu. Lihatlah, betapa Maha Pemurah-nya Ia, menciptakan anak seperti dirimu yang berbakti dan selalu berusaha membahagiakan kedua orang tuanya. Bapak akan merasa berdosa jika tak bersyukur karena kehadiranmu. 
Ketahuilah, kamu punya banyak hal. Ketahuilah, bahwa kamulah yang paling banyak menerima pembelajaran dan pengalaman. Kamu lebih banyak belajar dari segala hal yang sudah terjadi. Dari Bapak, Ibu atau dari ketiga kakakmu. Jangan pernah merasa kecil. Mungkin usiamu memang masih jauh dari Bapak, dari kami, tetapi, Bapak tahu kamu memiliki hati yang besar. Hati yang besar mengalahkan segalanya. Ingatlah itu, Nak.
Kamu tahu, bahwa tidak ada yang bisa Bapak inginkan selain berada di dekatmu. Sebelum kamu memilih pasangan hidupmu, hanya kehadiranmu yang sangat Bapak inginkan di setiap harinya. Bapak dan Ibu ingin merasa dekat denganmu, Nak.
Tetapi keinginan itu tidak pernah Bapak utarakan, Ibumu selalu melarang Bapak untuk menyuruhmu kembali dan tinggal bersama kami. Karena Ibumu sangat menyayangimu, Ibumu tahu bahwa kamu sudah bahagia dengan apa yang kamu lakukan sekarang. Ibumu lebih menyayangimu daripada Bapak menyayangimu karena ia lebih peduli dengan perasaanmu dibandingkan dengan perasaannya sendiri. 
Karena itu, sayangilah Ibumu seperti dia menyayangimu. Ia tidak memedulikan perasaannya, demi dirimu. Begitulah kasih sayang, mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Patuhilah setiap kata-katanya. Jaga Ibumu jika Bapak suatu saat tidak bisa lagi berada di sampingnya untuk menjaganya. Kasih sayang Ibumu melebihi dari kasih sayang siapapun di dunia ini. Ingatlah ini juga, Nak. 
"Enggak, Bu. Aku enggak merasa susah, kok." gumamku.

Senyum Ibu kini terkembang.

"Sini, Nak..." Ibu menarik kepalaku ke dadanya. Kami saling diam beberapa saat, kemudian aku mendengar suara Ibu terisak.

"Bu..."

"Ibu menyayangimu, Nak..." suara Ibu terdengar pelan di antara isak tangis.

"Iya, Bu... Melia juga."


Tulisan ini disertakan dalam rangka memeriahkan #10DaysKF

Comments