#4 How I Met Your Ex

Bagaimana pertemuan pertamamu dengan dia?
Mungkin hal biasa kalau kita bertemu dangan pacarnya mantan. 
Tapi, adakah yang pernah bertemu dengan mantannya mantan, padahal sebelum ini kalian tidak pernah bertemu sebelumnya?

Kami bertemu tanpa sengaja ketika aku dan dia sedang mengantri di bagian akademik fakultas. Kebetulan kami satu fakultas, tetapi karena kami berbeda prodi, kami berkuliah di gedung yang berbeda dan kemungkinan untuk berpapasan sangat kecil.

Dengan kemampuanmata-mata yang setara dengan mata-mata CIA, aku sering men-stalking semua mantannya mantan yang saat itu masih jadi pacarku. Termasuk dia, aku tahu dan hapal wajahnya, meskipun aku nggak pernah bertatapan langsung dengannya.

Saat bertemu dengannya, statusku sudah menjadi "mantan tapi masih ngarep" alias masih sering kangen dan masih pengen balikan dengan si mantan.
Aku duduk tepat di sebelahnya, ia memegang map yang jelas-jelas tertulis namanya. Sudah 15 menit aku memperhatikannya secara diam-diam, meyakinkan diri bahwa cewek berkecamata, berkerudung dan kalah cantik sama aku ini memanglah ia yang kumaksud. Dalam hatiku bertanya-bertanya. Dia tahu aku nggak, ya? Harusnya tahu, soalnya kan si mantan sering posting foto sama aku dan mereka saling follow di Instagram. Tapi kok, lagaknya dia nggak kenal aku ya... Ajak ngobrol. Enggak. ajak ngobrol. Enggak. Tapi in beneran dia nggak, sih?

"Em, maaf. Kamu itu 'dia' bukan, ya?"Aku nggak tahan untuk memendam rasa penasaranku.
Gadis yang berada di sebelahku ini sedikit kaget, alisnya mengkerut seketika. Tangannya meremas-remas map yang tadi ditentengnya, seperti bersiap untuk menabokku dengan map jika aku macam-macam dengannya. Padahal aku cewek lho, sama kayak dia. Kejahatan macam apa yang bisa kulakukan kepada cewek di lingkungan kampus seperti ini? Apalagi yang kutahu dia penyandang sabuk hitam Taekwondo, apalah artinya aku, yang kena tendangan di kepala satu kali aja langsung oleng.. 😪

gambarnya nemu di google.
Setelah beberapa menit memandangiku dengan tatapan aneh, baru ia berseru. "Oh iya, kamu pacarnya anu, kan?"

Aku langsung memasang wajah sedih sesedihnya, tapi tetap menyunggingkan senyum. "Udah enggak..."

"Lho kenapa?"

Kemudian mengalirlah cerita tragis putus cintaku dengan mantannya.

"Kamu yang sabar aja. Dia itu orang baik kok, dia bakal kembali sama kamu kalau memang dia sayang." Katanya, yang kusambut dengan hangat karena saat itu kata itu lah yang mampu membuatku tenang.

Lalu tanpa sadar kami saling berbagi cerita tentang banyak hal. Seketika kami menjadi akrab. Ia berbagi cerita tentang banyak hal.  Bahkan, sami saling berbagi bingkisan ketika kami ujian akhir kuliah. Aneh rasanya, kami diakrabkan oleh mantan yang kebetulan sama.

Sampai sekarang, enam bulan kemudian, aku dan dia masih saling berkomunikasi. Saling berbagi cerita dan saling berbagi pengalaman. Lucunya, aku tak perah lagi berhubungan dengan mantan kami itu. Kami sama-sama melupakannya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka memeriahkan #10daysKF

Comments