Friday, 1 April 2016

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

agak nggak rela sih masang foto ini.
secara tokoh yang aku ceritain di sini nggak
ada mirip-miripnya sama Shinichi-_-


Aku nggak percaya. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak aku untuk pertama kalinya menyukai dan berpacaran dengan seorang anak laki-laki. Kala itu, masih duduk di kelas 6 SD, tolong jangan bayangkan aku berpacaran seperti zaman sekarang. Kami berpacaran dengan sehat. Kami hanya keluar setiap sore dan kami hanya keliling kompleks sambil mengendarai sepeda. Tanpa berbicara apa-apa. Rasanya pada waktu itu sudah cukup membahagiakan.

Dari dia, aku mengenal sebuah teori  dalam cinta, yang baru aku sadari ketika aku menulis ini.
“Witing tresna jalaran saka kulina.”
  Cinta datang karena terbiasa.

Cerita ini memang tidak mendatangkan cinta. Cinta terlalu dewasa untuk anak seumur kami.

Karena kami terbiasa bermain bersama, muncul rasa yang tidak biasa di antara kami. Hanya sebatas rasa “suka”, tetapi saat itu maknanya sudah sangat berbeda dengan teman. 

Aku bertemu dengannya ketika aku duduk di kelas 3 SD, aku menempati rumah yang tak jauh dengan Taman Kanak-Kanak. Rumahnya berada di belakang Taman Kanak-Kanak. 

“Anaknya Pak Yusuf, ya?” Ia muncul dari bagian belakang gedung dengan sepeda kuning. 

Aku—yang sedang bermain ayunan di halaman TK—mengangguk. 

Kemudian, sejak itu kami berteman. Hanya berdua.  

Setelah tiga tahun menghabiskan sore dan hari Minggu bersama. Pada suatu sore, ia memberikanku sepucuk surat. Dan sebuah kotak… Pepsodent yang dibungkus dengan kertas kalender. Di kotak itu berisi sebuah boneka kecil yang sudah kumal dan kalau diingat-ingat itu sebenarnya enggak banget. Ngasih hadiah buat temen aja harus bagus, masak ngasih buat orang yang disuka pake bungkus Pepsodent terus isinya boneka kumal yang usianya pasti udah bertahun-tahun? Atau jangan-jangan dia nggak sengaja nemu boneka jatuh, terus dikasih ke aku? Huft.

Tapi aku ingat-ingat lagi. Pas aku menerima kotak itu kok rasanya malah seneng-seneng aja. Ya entahlah. Yang ada di pikiranku cuma satu waktu itu. 

“Asik! Bisa pamer ke temen-temen kalo ada yang suka sama aku…” 

Aku bersekolah di sekolah yang bisa dibilang salah satu sekolah elit di kotaku. Bukan karena apa-apa, aku bersekolah di sana karena sekolah tersebut satu-satunya yang searah dengan tempat orang tuaku bekerja. Aku sekolah di situ juga karena kakakku yang saat itu sudah SMA bersekolah di sana. 

Besoknya aku pamer kepada teman-temanku yang selalu mengobrol tentang anak laki-laki yang ‘kata mereka’ adalah pacarnya. Karena aku nggak punya pacar, aku hanya bisa diam dan mendengarkan cerita mereka yang entah benar atau pacar itu hanya khayalan mereka. Dan hari ini aku akan balas dendam sama mareka. HAHAHA 


Aku membawa surat yang diberikan kepadaku kemarin. Dan aku nggak bawa bonekanya. Ujung-ujungnya, bukannya pamer malah aku jadi bahan tertawaan kalau boneka kecil kumal itu kubawa ke sekolah.

Mereka membaca surat tersebut yang jujur aku lupa isinya. Inti suratnya, dia, menyukaiku dan dia ingin menjadi—ehem—pacarku. Mereka langsung heboh. Merasa tersaingi mungkin. Maklum lah, perasaan anak SD. 

Sorenya, aku dan dia bersepeda lagi, kali ini kami berkeliling kompleks menggunakan satu sepeda. Dan aku diboncengnya, aku berdiri di belakangnya dan memegang bahunya. Rasanya kali ini ada yang berbeda. Aku lebih banyak tersenyum melihatnya. Dan aku berusaha terlihat manis di hadapannya.  

Dua minggu berlalu. Suatu sore kami mengobrol.

“Kamu SMP di mana?” tanyaku.

“Di sekolah Z.” dia menyebutkan sekolah yang berada di dekat rumah. “Kamu katanya mau ke luar kota, ya?”

Aku mengangguk. “Aku asrama di sana.” 

“Kamu kalo liburan balik ke sini, kan?”

Aku mengangguk lagi. “Iya. Mama sama Papa kan masih di sini.”

Ia tersenyum mendengar jawabanku. “Kalo gitu kita masih ketemu.” Katanya. 

Ternyata, hari itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Sejak itu kami tak pernah lagi bertemu, sibuk dengan urusan sekolah masing-masing. Sibuk dengan persiapan ujian kelulusan SD dan ujian masuk SMP.

Seperti yang kukatakan, aku melanjutkan sekolah ke luar kota. Dia? Entahlah. Bahkan saat aku libur, aku tak pernah lagi melihatnya lewat depan rumahku. 

Aku pernah tak sengaja melihatnya melalui jendela. Ia lewat depan rumahku bersama teman-temannya. Ia berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke rumahku. 

Mungkin dia sudah melupakanku. Atau mungkin ia malu pernah berteman sangat dekat denganku. 

Telepon genggam milik orang tuaku bergetar, tanda ada sms masuk.

Halo Liaaaa… Lagi apa? 

SMS dari Ari, anak laki-laki yang sudah satu minggu ini menjadi pacarku. 

6 comments:

  1. Wah, bakalan asik nih cerita berikutnya kalau baca endingnya :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. wihihi semoga kelanjutannya tidak mengecewakan, ya! :D

      Delete
  2. Replies
    1. sudah dibalas dong, masak sms dari pacar sendiri nggak dibalas? :D

      Delete