Sunday, 23 November 2014

[CERPEN] Hurt

Dari sekian kali patah hati yang kamu rasakan, inilah yang paling menyakitkan.

Dia membentak dan ia tega mengusirmu. 

Kamu tidak pernah mengira, dia—orang yang kamu anggap paling sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakanmu, bisa sebegitu murkanya kepadamu.

Kejadian berawal dari dia yang tak banyak bicara pada hari itu, kamu tahu dia sedang dalam masalah. Namun, kamu juga tak betah jika seharian bersamanya tetapi ia tak bicara sepatah kata pun.

“Kamu ngomong ngapa, sih… Diem mulu, kamu kira aku patung apa?” sungutmu.

Dia masih diam. 

"Rikii…. Iih! ” Kamu merengek, kemudian mencubitnya.

“KAMU NGGAK USAH NYUBIT BISA NGGAK SIH, HA?!” Bentaknya. 

Kamu tertegun, langsung menunduk, tak mengira ia akan membentakmu. Kamu tahu ia benci dicubit, tapi kamu tak pernah dibentaknya hanya karena kamu mencubitnya.

“Kalo kamu ngerengek kayak gitu, mending pergi aja.” 

Sekali lagi ia membuatmu tertegun. Kamu mengangkat wajah, pipimu sudah basah oleh air mata. Kamu menatapnya, berharap ia meminta maaf atas perkataannya. Namun, kata maaf tak kunjung keluar dari mulutnya. Akhirnya, kamu berlalu dari hadapannya masih dengan air mata. 

No comments:

Post a Comment