Terbengkalai Kemudian Terlupa

Bukan. Itu bukan curhat yang bermodus judul, kok. Dan isi tulisannya juga nggak akan mengarah ke ‘sana’. Ke sana. Ke diaaa *lirik*.  Ya bohong, sih, ntar juga pasti bakal menyerempet ke sana juga. Dia kan udah paket lengkap sama tulisan-tulisanku. Walaupun sekalimat, pasti ada aja sesuatu yang berhubungan sama itu orang. Haha maaf labil :D 

Kembali ke topik yang bukan dia, jadi yang terbengkalai selain hati dan perasaan-ku, yang paling paling memprihatinkan adalah proyek menulis-ku yang seharusnya sudah setengah jalan, (terpaksa) tertunda lagi. Tertunda untuk selamanya lagi mungkin. :( *nangis sambil garuk-garuk aspal* 

Alasannya tentu saja sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijadikan alasan, karena SEHARUSNYA kalau aku memang berkomitmen menyelesaikannya nggak ada namanya sesuatu yang bisa menghambat komitmenku itu. 
Sama kayak kalo memang kamu merindukan seseorang dan ingin bertemu dengannya, nggak ada alasan remeh seperti “Takut dibegal” atau “Bukan lagi anak malam” sebagai penghalang niat untuk bertemu. Kalau memang ingin ya harusnya nggak ada halangannya. SEHARUSNYA. 
Tetapi yang namannya manusia, punya seribu alasan untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Manusia nggak bakal bilang secara gamblang kalau ia “TIDAK MAU” karena ia terlalu takut atau mungkin GENGSI untuk melanggar komitmennya sendiri. 
Dan jika begitu, nasib yang diberi komitmen menjadi terbengkalai, terlupa dan akhirnya MEMBUSUK. Mungkin jika tulisanku itu kayak manusia, dia akan menangis meraung-raung, guling-guling sambil salto menuntut hak-nya untuk diselesaikan. Untunglah dia bukan manusia. Untung.
Sekarang aku harus bagaimana? 

Comments