Sendiri (lagi)

H-7 hari sebelum aku berada di Semarang untuk melaksanakan kewajiban perkuliahan yang bernama KKM; Kuliah Kerja Media, atau nama pasarannya Magang. Di post yang ini aku nulis, kalau aku sudah mendapat tempat untuk Magang, namun sesuatu yang sangat tidak aku inginkan telah terjadi, dan taraa… akhirnya aku terdampar di Semarang. Tempat yang jauh dari perkiraanku.

Sebenarnya pengin sih, menceritakan sebab musbab akhirnya aku magang di Semarang, tapi jujur saja, enek juga yang diomongin itu-itu doang. Padahal, aku magang aja belom. :” 

Setelah bermigrasi ke pinggiran kota Medan, Jogja, Solo, kota selanjutnya adalah Semarang.  Kota yang  bisa ditempuh hanya dengan maksimal 3 jam kalo dari Solo atau Jogja. 

Aku bukan seorang yang senang jalan-jalan. Aku nggak terlalu suka piknik (meskipun aku butuh sesekali). Aku nggak suka datang ke kota orang satu hari kemudian pergi. Sama kayak rasa nggak sukaku sama orang yang datang kemudian pergi begitu aja. 




Aku lebih senang menetap di satu tempat, sampai aku tahu betul sela-sela tempat itu, kemudian baru bisa pergi ke tempat lain dan mengulang lagi apa yang aku lakukan di tempat sebelumnya. Meski aku senang pindah-pindah tempat begini. Meski aku hidup bermigrasi sana-sini. Aku nggak melakukan hal yang sama dengan hatiku. 

Sejujurnya, perpindahan hati adalah hal terakhir yang kalau bisa tidak kulakukan dalam suatu hubungan. 

Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku lebih senang menetap, dan untuk urusan hati bisa ditambahkan “tanpa pindah” diujung kalimatnya.

Aku lebih senang menetap, tanpa pindah.

Tetapi kebanyakan pria yang “pernah” kukenal tidak mengerti, mungkin memang sudah hukum alam semua pria sulit mengerti keinginan wanita. Tapi bukan mereka saja yang sulit mengerti aku, pria juga adalah manusia yang paling susah ditebak hatinya. Mudah berubah. Tidak konsisten. Padahal kami, wanita, hanya ingin satu: “Pria yang kami sayang senantiasa ada di samping kami, apapun yang terjadi. Apapun.” 

Okey, cukup penggalauannya. 

Di Semarang nanti aku hidup sendirian lagi. Seperti 2,5 tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswa semester 1 dan belum kenal dengan 3 manusia super alay yang memporak- porandakan hidupku selama di Solo, sama seperti 5 tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi siswa kelas 10 SMA di Jogja, sebelum mengenal teman-teman yang baik hati dan selalu ada untukku. 

Sendirian bukan menjadi mimpi buruk untukku. Aku sudah pernah mengalaminya. Buta arah. Buta tempat. Tanpa teman lama. Namun, seperti 2 pengalaman di atas, aku yakin, aku akan baik-baik saja di Semarang. Semoga. 

Hanya yang menjadi masalah untukku adalah beberapa hari kemarin. 
Kuberitahu sebelumnya, aku adalah salah satu mahasiswa yang terlambat magang. Ketika rata-rata temanku sudah menyelesaikan urusan surat-menyurat di fakultas, dan juga ada sudah memulai magang, aku justru baru memulai proses mengurus magang di administrasi prodi. 

Sebenarnya bukan masalah besar kalau yang magang lebih dulu itu bukan Cintia dan Monika. Seminggu kemudian, disusul oleh Caecilia. 

Aku ditinggal oleh mereka. Padahal aku terlanjur terbiasa hidup di kos ada mereka—setidaknya salah satu dari mereka. Padahal aku terlanjur terbiasa, urusan kampus dan segala macam tetek bengeknya diurus oleh mereka. Padahal aku terbiasa misuh-misuhi mereka. Padahal aku terbiasa makan sama mereka. 

Kemarin, aku melakukannya SENDIRIAN. Aku mengurus semuanya sendirian, mulai dari A sampai Z. Sabang sampai Marauke. Aku mondar-mandir sendirian. Setelah semua selesai, aku ke Kopma sendirian. Beli jajan sendirian. Nggak jadi masalah kalau hal ini aku lakukan sebelum aku terbiasa dengan adanya Cintia, Monika dan Caecilia. 

Tapi aku terlanjur bergantung sama mereka.

Aku makan tahu bakso sambil duduk di salah satu sudut, memperhatikan beberapa gerombol mahasiswa yang asik mengobrol. Dan saat itu juga, aku benar-benar merasa kesepian. Mungkin karena memang suasana hati yang sedang kelabu. Saat itu aku merasa semua orang meninggalkanku. Meninggalkan aku yang terbiasa dengan kehadiran mereka. Meninggalkan aku di saat aku sedang susah-susahnya.

Sebelum aku menye-menye dan jadi tontonan, cepat-cepat aku menghabiskan tahu bakso yang tinggal seperempatnya, kemudian aku pergi meninggalkan kampus. Yang aku tahu saat itu, aku kangen Cintia, Monika dan Caecilia. 

Dari situ aku sadar, sendirian itu nggak buruk. 


Yang buruk itu kalau berada di tempat yang sama tapi tidak dengan orang yang sama, apalagi di tempat itu sendirian. Kenangan bersama berseliweran, sedangkan tempatmu berbagi udah nggak ada.  

Sama kayak yang aku alami sekarang. 

Comments

  1. Keterlambatan bukan akhir dari segalanya ko, semangat buat nanti magang di kota orang :)

    ReplyDelete

Post a Comment