Sunday, 6 November 2016

[ASAL REVIEW] Film TROLLS, Everyone Deserve To Be Happy



Di sini, karakter para trol merupakan makhluk yang ceria dan bersemangat. Yang mereka lakukan hanyalah bernyanyi, menari dan berpelukan. Semua trol selalu bahagia, terutama Poppy. Poppy memiliki sikap optimis dan rasa percaya diri yang tinggi. Sehingga banyak trolls yang berteman dengannya. Sikapnya ini berkebalikan dengan Branch. Branch satu-satunya trol yang nggak suka menyanyi, menari, dan berpelukan. Branch juga selalu mengacaukan pesta trol dengan kecemasannya terhadap Kaum Bergen yang terlalu tinggi. Branch selalu memiliki firasat bahwa Kaum Bergen akan muncul tiba-tiba dan memakan mereka. Semua menertawakan Branch, sampai akhirnya apa yang dicemaskan Branch benar-benar terjadi. Kaum Bergen datang dan menculik teman-teman Poppy. Poppy yang selalu ingat perkataan raja sekaligus ayahnya, memilih untuk pergi ke Kota Bergen dan menyelamatkan teman-temannya. Poppy dibantu oleh Branch dalam usahanya itu, karena sifat mereka yang sangat berbeda, Branch sering kali kesal dengan Poppy. Walau begitu, mereka harus terus jalan dan menyelamatkan para troll. Gimana, ya kisahnya?

Jujur saja, Trolls bukan salah satu film yang masuk dalam daftar film yang harus kutonton dalam tahun ini. Alasan yang paling mendasari aku nggak tertarik untuk memngeluarkan uang demi menonton film ini adalah Trolls mengangkat tentang makhluk bernama trol. Trol mana yang enak dilihat coba? 

Harry Potter dan The Hobbit sama-sama menggambarkan bahwa makhluk ini hanyalah makhluk jelek, kasar, besar,  polos dan ingusan. Nggak ada yang menaruh perhatian khusus sama trol pada versi dua film itu. Dalam Frozen, citra trol agak naik, nggak seberantakan yang ada di Harry Potter dan The Hobbit. Mereka bahkan menjadi tabib. 

Intinya, aku nggak suka trol. Sekalipun ada Justin Timberlake dan Anna Kendrick yang sejauh ini salah satu cast dan penyanyi yang kusukai, adanya mereka tetap nggak mampu menggugah perasaanku untuk menonton Trolls. Trailernya aja aku nggak nonton. 

Nggak tertarik bukan berarti aku nggak mau nonton, lho.

Aku ditawarkan untuk menonton Trolls secara gratis. Dan hanya orang yang bisa mati kalo nonton bioskop aja yang menolak tawaran ini di akhir pekan. 

Akhirnya aku menonton Trolls. 

Oh, ya, film ini dibawahi oleh DreamWorks. Sepanjang ingatanku menonton film-film animasi DreamWorks, aku kurang mendapatkan pembelajaran atau kurang mengena di hatiku. Aku nggak pernah bisa mendalami makna-makna dari film animasi yang kutonton. Contohnya Despicable Me, menghibur iya, memberi pelajaran hidup enggak. Kemudian aku menonton KungFu Panda hanya karena karakter Po yang lucu dan polos, aku nggak bisa mengartikan secara mendalam dan menjadikannya pesan dalam film itu sebagai pedoman hidup. Terus ada Home, How To Train Your Dragon, The Croods dan lain-lain. Nggak ada yang benar-benar pesan dari film itu yang menempel di kepala dan hatiku. 

SIAPA JUGA YANG NYURUH ELU NYARI PEDOMAN HIDUP DARI FILM KARTUN? #kemudiandigeplakpakesandal

Hehe. Namanya juga selera. Buatku nonton film animasi itu bukan hanya untuk hiburan, tetapi harusnya ada makna disampaikan. Pesan yang isinya terkadang lupa diterapkan oleh orang dewasa. Karena banyak orang dewasa sekarang ini justru tersesat dan nggak tahu harus berpegangan pada prinsip apa. Nah, aku penginnya, setiap film animasi yang kutonton, membuatku sadar kembali akan esensi-esensi dasar yang disepelekan dalam hidup. 

Dan aku mendapatkannya di film ini. 


Pas nonton ini, aku enggak sinis lagi sama makhluk trol. Gimana mau sinis, kalo penampakan trol di Trolls unyu, lucu dan warna-warni, yang kerjaannya cuma bernyanyi, menari dan berpelukan? Yang sangat mirip dengan bentuk trol yang jelek, ingusan dan kotor bagiku justru kaum Bergen. Aku akhirnya mampu menerima bahwa trolls nggak jelek-jelek amat di versi Trolls.
"Selalu ada sisi positif."
Itu semacam tagline dari film ini, diperjelas oleh sikap Poppy yang selalu berpositive thinking walaupun mereka dalam keadaan bahaya. Poppy benar-benar percaya bahwa apa pun yang terjadi, seburuk apapun yang terjadi akan ada hal positif yang bisa didapatkan. Tapi dunia nggak sesederhana pemikiran Poppy, bahkan dalam Trolls, Poppy pun sempat mengalami perubahan warna yang berarti ia kehilangan sikap ceria dan rasa optimisnya. Untungnya, Poppy punya teman, teman yang baik. Yang membantunya untuk tetap optimis di kala kesedihannya. 

"Kebahagiaan ada pada setiap orang."
Kaum Bergen percaya banget kalau mereka nggak bakal bisa pernah bahagia tanpa trolls. Tapi Poppy menyadarkan mereka dengan kalimat itu. Poppy yakin bahwa kebahagiaan itu berasal dari diri seseorang, tergantung bagaimana cara kita melihatnya. 

"Everyone deserve to be happy."
Aku suka banget kalimat ini. 
Ini adegan ketika troll harus mengorbankan kebahagiaan Bergen yang telah menyelamatkan mereka, tapi tentu saja Poppy nggak mau. Dia pun memngambil resiko menghadapi para Bergen yang butuh kebahagiaan. 

Terakhir, yang aku dapat dari film ini adalah: Jangan menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. 

Hal terakhir yang bikin film ini istimewa adalah saat di mana aku bisa menangis sedih dan terharu padahal semenit sebelumnya aku sedang tertawa cekikian gegara kelakuan teman-teman Poppy yang lucu. 

Aku merasa nggak ada bagian yang gantung, yang bikin alisku berkerut atau bikin aku nggak suka sama film ini. Jadi, dari 5, aku kasih nilai 4.5 untuk filmnya! 0.5nya aku simpan karena tokohnya nggak ada yang bikin aku jatuh cinta, kayak aku jatuh cinta sama Baymax. 


4 comments:

  1. Kayaknya recommend nih buat nonton bareng keluarga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. rekomen banget :D selamat menonton

      Delete
    2. ga boleh terlewat harus nonton, btw saya memang suka film animasi, jadi karena udah direview dapat gambaran, dan harus nonton

      Delete
  2. "Everyone deserve to be happy." taglinenya menarik, but wait apa aku doang yang tau kalo ada film ini?

    ReplyDelete