Tuesday, 20 March 2018

3 Things Magical

14 Menit sebelum hari Rabu. 

"Rasa  dan Realita."
Apa itu? Penjelasannya bisa kamu cek sendiri di video ini. 

Intinya, apa yang sedang kita rasakan akan berpengaruh sama realita yang bakal kita dapatkan. Kalau punya rasa yang baik, maka hal yang baik juga yang aka terjadi dan begitu sebaliknya. 

Karena nggak ada namanya 'kebetulan', semua yang terjadi sama kita baik atau buruk, adalah feedback dari rasa yang kita pancarkan kepada semesta. 

Dua minggu lalu, dalam seminggu aku merasa merasa sangat-sangat beruntung. 3 hal ajaib terjadi, mungkin bagi bebrapa orang terlihat suatu 'kebetulan' atau hal-hal yang biasa terjadi. Tapiii, buat aku adalah hal yang luar biasa karena dalam saat ini aku merasa bisa mengendalikan nasib yang mana dengan kekuatan macam itu, bahkan aku bisa membuat Aang menang tanpa menguasai pengendalian api, air, bumi dan udara. 

Pertama, 
Pekerjaanku waktu itu sedang keteteran sekali, karena aku harus melaksanakan 2 job desk secara dan 2 jenis pekerjaan itu harus kubagi dengan jadwal kuliah. Bisa dibilang, pas itu aku memang sangat butuh sekali partner. Lalu datang chat dari Mas Bos di sore hari, "Mba Zul punya temen yang jago copywriter?". Nggak butuh lima detik setelah aku baca chatnya Mas Bos, di kepalaku langsung terlintas seorang wanita setengah dewasa bernama Anggita Sekar Laranti, yang kebetulan saat ini kami berdua bekerja di satu payung perusahaan yang sama, hanya beda unit kerja. Meski butuh, aku nggak langsung sebut namanya, nggak tahu kenapa. Kemudian malamnya, aku dikagetkan dengan perkataan Mas Bos, "Mba Zul, Mba Anggita kupinjem buat bantuin kerjaanya Mba Zul di sini." 

Sore hari aku berpikir Anggita, malamnya Anggita datang.
WAW. AMAZING SEKALI BUKAN???

Kedua, 
Rasa adalah realita. Rasa adalah realita. Kalimat itu sedang kutanamkan dalam bawah sadarku. Sampai suatu hari, ketika aku mengendarai sepeda motor di cuaca yang menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan, cepat-cepat kumembatin, "Aku sampai tujuan dalam keadaan kering, tanpa gerimis, tanpa hujan. Pokoknya kering-kering-kering."

Apa yang terjadi? 
Ya. Aku enggak kehujanan, yang bikin aku takjub adalah hujannya sudah duluan berada di depanku. Jadi hujan lebat menyapu sepanjang perjalanannku, dan aku berada di belakang hujan menikmati aroma Petrichor. 

Ketiga, 
Aku jarang banget ditawarin sarapan sama anak-anak kantor. Seringnya, aku yang nitip sama orang-orang yang biasa rajin beli sarapan. Biasanya pagi-pagi, aku ngechat sekitar 5 orang untuk memastikan salah satunya mau kutitipi. Pagi itu, aku belum sarapan dan aku (mulai) capek juga ngechat orang. Terus tiba-tiba ada 3 orang sekaligus yang menawarkan untuk membawakanku sarapan. PADAHAL AKU NGGAK MINTA.

Jadi apa inti postingan kali ini? Rasa adalah realita. 

No comments:

Post a Comment