Posts

Nikah.

Image
Porsi ngomongin nikah di usia 21 HARUSNYA  bukan jadi prioritas. Mungkin bisa dibahas sesekali, tetapi porsinya nggak lebih besar tentang obrolan tentang pencapaian dalam hidup, cita-cita, dan menikmati masa-masa fase yang dianggap sebagai 'dewasa matang'.  Jujur.  Obrolan tentang "Kapan nikah? Gimana calon pasangan idaman?" bukan salah satu topik yang paling kupedulikan sekarang ini. Karena, sama kayak gulungan benang yang ditarik panjang sama anak kecil, apa jadinya? RUWET.  Salah satu alasan dulu kenapa aku milih buat berpacaran di masa kuliah adalah harapanku nantinya (artinya sekarang) aku nggak mau diribetin segala tetek bengek pertanyaan "udah punya calon pasangan hidup belum?", karena kalo misal aku pacaran dan awet, bisa dipastikan sekarang aku  bisa menjalani kehidupan usai kuliah dengan tenang dan enggak perlu menuai pertanyaan yang ternyata lebih mengerikan daripada "kapan kuliahnya kelar?" itu.  Aku memang visioner sekal...

Highlight

Image
Hehehehehehehehe.... Maafkan, aku mengosongkan bulan Februari tanpa satu pun postingan.  Ketahuilah, aku menyesal. Sungguh.  Dalam jangka waktu satu bulan setengah, banyak banget yang terjadi.  Mulai dari perasaan yang ujung-ujungnya kusadari kalau ternyata aku hanya kebaperan, tapi aku nggak bisa kabur dan cuma bisa mencoba terbiasa dan akhirnya nggak bisa ngerasa apa-apa lagi. File 'drama menye-menye' dalam kehidupan percintaanku tanpa sengaja kudelete, demi masa depan baik  dan cerah bercahaya tanpa baper. Terus di awal Februari, aku mengikuti training kantor yang katanya mau dijalankan rutin tapi karena ada sesuatu yang lebih urgent, akhirnya training yang bernama Inspira Booth Camp hanya dilakukan di minggu pertama. Yang detailnya kuceritakan di sini . Piknik bareng Monika. Berdua naik motor dari Jogja-Gunung Kidul PP seharian yang ternyata menguras tenaga, alhasil besoknya seluruh badan langsung pegal-pegal.  Terus ada games 3...

Enggan Beranjak

Ada yang dengan sadar merelakan diri untuk tersakiti. Bukan hanya sekali, namun tiap kesempatan seakan tambak runcing menembus ulu hatinya. Memeras paksa hatinya hingga yang tersisa hanya bongkahan kecil yang telah mengkerut.  Berkali, sudah kukatakan jangan lagi mengorbankan diri. Jika itu cinta harusnya ia tidak tersiksa. Bila yang ia rasa bernama sayang, tak seharusnya justru membuatnya menangis bermalam hingga tiada ujungnya.  Dia, si keras kepala.  Dia, yang enggan beranjak. Dia, yang rela menyakiti diri sendiri hanya untuk mendapat kebahagiaan semu. 

#10 Jangan Lakukan Lagi Ya, Aku

Hal yang berjanji tidak akan kulakukan lagi. Errrr... Gegara paketan habis aku nggak bisa nge-posting tantangan hari ke-10 dengan tepat dan terpaksa molor satu hari.  PFT. Challanger macam apa!  Jadi begini, kita langsung saja ke inti postingan. Aku sering sekali merenung sendiri. Apa ya namanya, meditasi diri? Merenung tentang hal-hal yang sudah kulewati, pelajaran apa yang sudah kuambil dari setiap kejadian, kemudian bertanya pada diri sendiri tentang mau jadi apa aku besok? Gimana perasaanku sekarang? Intinya aku ngobrol dengan diri sendiri.  Hasil mengobrol biasanya, saku akan bernapas lega dan bersyukur dengan apa yang telah terjadi.  Tapi nggak jarang juga obrolan kami (aku dan aku) berjalan tidak lancar, terkadang setelah mengobrol, pikiranku jadi malah kalut.  Persoalannya selalu satu: jika obrolan kami tidak lancar hal tersebut dikarenakan aku "masih" menyesali keputusan hidup yang tidak sepenuhnya dari hati. Misalnya, ak...

#9 Mas, Jadi Sebenernya...

Menulis sebuah surat untuk seseorang. Jangan kege'eran dulu. Aku nulis ini bukan karena sepenuhnya aku suka sama kamu (berarti setengahnya iya), tapi pas aku berpikir "mau bikin surat buat siapa, ya?" yang muncul di kepalaku langsung kamu. Mungkin karena kita terlalu sering ketemu. Delapan jam sehari. Enam hari seminggu.  48 jam seminggu. 1440 jam sebulan, dikali tiga karena udah tiga bulan kita ketemu: 4320 jam. 259200 menit dan 15552000 detik pertiga bulan. Lihat!

#8 Aku Nggak Begini, Suer!

Fakta yang berlawanan dengan opini orang lain tentang diriku? Langsung aja, nggak usah pake basa-basi, ya. Soalnya ini udah pukul sembilan malam, anak sekolah nggak bagus tidur larut. Besok juga harus pendalaman materi pukul 06:30.  Sesuatu yang berlawanan dengan opini orang tentangku adalah: 1. Dikira Jones (Jomblo Ngenes), padahal Jojoba (Jomblo-Jomblo Bahagia) Mungkin karena aku sering banget godain mas-mas di kantor dan keseringan curcol nggak tahu waktu, apalagi curcolannya bawa-bawa perasaan, hati, mantan, jodoh dan kawan-kawannya aku jadi kelihatan ngenes banget gitu. Mungkin banyak yang berpikir aku godain dan curhat nggak tahu waktu itu efek dari aku kelamaan jomblo. Padahal nyatanya nggak begitu, aku suka godain orang ya emang karena suka aja, kalau pun aku nggak jomblo rasanya aku tetep rajin gombalin orang, kok. Hehe.Aku masih santai aja sama status jomblo sekarang, nggak ngebet punya pacar. Enggak ngebet pengin PDKT sama siapa. Intinya aku lagi menikmati m...

#7 Permintaan Bapak Kepada Melia

Image
Rumah ini tidak sama lagi dengan ketika terakhir kali aku ke sini beberapa bulan yang lalu. Aroma bunga melati yang kuhirup sudah hilang, kembali berganti dengan aroma rumah yang familiar di hidungku.  "Kamu tidur sama Ibu, kan? Pakaianmu langsung disatukan sama pakaian-pakaian Ibu aja..."  "Pakaian Bapak?" aku bergumam pelan, aneh rasanya menyebut Bapak.  "Sebagian besar sudah Ibu sumbangkan..." Nada suara Ibu tak kalah paraunya dengan suaraku.  Aku mengangguk patuh, tapi masih enggan beranjak dari ruang keluarga. Mataku menyusuri satu persatu foto yang memenuhi ruangan. Foto masa kecil, wisuda, pernikahan, lebaran dan semua momen yang diabadikan tak hanya menjadi pengias buku album. Bapak selalu mencetaknya beberapa kemudian ditempelkan pada pigura, lalu memajangnya di ruang keluarga. nemu gambarnya di pinterest. "Biar Bapak sama Ibu merasa kalau anak, menantu dan cucu kami ikut menonton televisi juga. Biar kami nggak merasa h...