Posts

bersyukur.

Image
Ramadan nggak Ramadan, yang selalu aku syukuri adalah; aku sangat-sangat-sangat bersyukur dikaruniai teman-teman yang berhati emas.  Jadi ceritanya aku punya tugas yang harus dikumpulkan hari Selasa besok, tugasnya disuruh menganalisis satu halaman koran selama satu minggu berturut-turut, yang mana tugas kayak gitu berarti harus ngumpulin koran yang sama dengan halaman yang sama. Dan hal kayak gitu sulit kulakukan untuk aku yang hidupnya nomaden ini.  Untungnya, aku punya teman. 4 orang teman yang sangat paham kalau manajemenku terhadap waktu antar kuliah dan pekerjaan itu sangat buruk.  Kemudian mereka berinisiatif untuk memberikanku satu space halaman Koran buat aku doang, padahal mereka bisa aja nggak peduli. Bisa aja mereka nge-keep punya sendiri dan halaman lainnya di keep orang lain.  Belum lagi, tiap ada tugas atau ada ujian mereka nggak keberatan buat mengirimkan hasil tugas atau memfoto catatan mereka biar bisa kucontek. Belum lagi, mereka m...

SAYA DEAL DONE!

Image
Tiap perusahaan itu ada namanya corporate culture, kalo di Indonesia kan artinya: Budaya Perusahaan. Kemaren kuliah kebetulan dapet materi tugas ini juga, jadi ya sedikit paham lah. Ya, walaupun aku mengerjakan bagian kesimpulan doang.  Idealnya, setiap perusahaan itu punya budaya masing-masing. Budaya yang harus dipahami oleh tiap-tiap orang yang berada di perusahan itu. Gunanya? Ya agar visi dan misi perusahaan tercapai. Gitu sih menurut teori.  Meski kantorku bisa dibilang rada nyeleneh dengan yang lainnya, corporate culture juga ada di tempatku berkerja, lho. Dan alasan terbesarku bertahan sampai 1,5 tahun di sini ya karena budayanya itu. Budaya yang menurutku cukup unik, dan beda dari yang lain. Ada 3 budaya inti: Ceria, Kaizen, Deal Done.  CERIA KAIZEN DEAL DONE

sebuah curhat.

Image
Aku kenal dengan banyak pria. Sedari kecil, kusadari aku emang suka sekali mendapat perhatian makhluk yang kelaminnya berlawanan denganku itu. Entah kenapa. Entah berasal dari mana.  Dulu waktu usiaku 5 tahun ada 2 orang teman Ayah yang menginap di rumah. Yang satu perawakannya besar, berkumis dan ramah. Selayaknya orang-orang yang bertemu dengan anak kecil berusia 5 tahun, beliau mengajakku berbincang. Dulu itu aku menyenangkan dan termasuk anak yang bijak alias banyak bicara, karena aku juga suka diajak ngobrol. Teman ayah satunya lebih muda dari yang perawakannya besar itu, badannya juga lebih kurus namun berisi. Ideal. Sayangnya, Oom satu ini enggak tertarik untuk mengajakku berbincang. Dia enggak ngobrol sama sekali denganku.  “Apa aku kurang menarik? Gimana caranya biar dia bisa menganggap aku ada, ya?” Bayangkan. Anak usia 5 tahun bisa berpikiran kayak begitu. Enggak persis begitu, tapi aku ingat banget. Aku pengen bikin beliau itu memperhatikan aku.
Image

3 Things Magical

14 Menit sebelum hari Rabu.  "Rasa  dan Realita." Apa itu? Penjelasannya bisa kamu cek sendiri di video ini.   Intinya, apa yang sedang kita rasakan akan berpengaruh sama realita yang bakal kita dapatkan. Kalau punya rasa yang baik, maka hal yang baik juga yang aka terjadi dan begitu sebaliknya.  Karena nggak ada namanya 'kebetulan', semua yang terjadi sama kita baik atau buruk, adalah feedback dari rasa yang kita pancarkan kepada semesta.  Dua minggu lalu, dalam seminggu aku merasa merasa sangat-sangat beruntung. 3 hal ajaib terjadi, mungkin bagi bebrapa orang terlihat suatu 'kebetulan' atau hal-hal yang biasa terjadi. Tapiii, buat aku adalah hal yang luar biasa karena dalam saat ini aku merasa bisa mengendalikan nasib yang mana dengan kekuatan macam itu, bahkan aku bisa membuat Aang menang tanpa menguasai pengendalian api, air, bumi dan udara.  Pertama,  Pekerjaanku waktu itu sedang keteteran sekali, karena aku harus melaksa...

Better

Image
Sepanjang hidup, aku enggak pernah merasa terinspirasi ini. Aku ini generasi twitter, segala informasi kuakses dari twitter. Sempat move ke Path, yang akhirnya ku-uninstall.  Sama juga kayak Instagram.  Sign out dari instagram adalah hal yang sebenarnya aku takutkan-karena takut nggak up to date lah, takut ga melek teknologi,  takut kalo punya foto bagus nggak mau diposting di mana, takut ini-itu. Kemudian, pada satu titik aku bener-bener bertekad buat sign out. Ajaibnya, udah hampir 3 bulan aku nggak buka instagram milikku dan aku masih hidup.  Ketakutan kemarin itu nggak terbukti. Aku jadi sadar kalau hadirnya Path atau Instgram ternyata nggak ngaruh-ngaruh amat buat hidupku. Aku butuh karena dia ada, kalo nggak ada, ya nggak papa juga. 

MATAMU!

Bikin orang kesal dan menjadi menyebalkan itu menyenangkan, saya tahu. Saya juga tahu, respon saya kalau dibikin kesal itu menggemaskan sekali, makannya banyak orang yang suka bikin saya kesal.   Kadang orang bahkan sampai lupa bahwa dia udah kelewat batas. Sikapnya yang menyebalkan berubah menjadi semena-mena waka-waka eo. Dan ketika itu terjadi, polisi bawah sadar saya seperti siap siaga, dia tahu bahwa sikap menyebalkannya itu sudah kelewat batas dan dorongan dari hati yang paling dalam, rasanya setiap orang itu ngomong pengen aja saya jawab, "MATAMU!".  Bukan, kata-kata itu tidak diproses oleh otak saya. Dia langsung muncul dari dalam diri, jadi saya nggak bisa mengontrolnya.  Kadang saya juga merasa terlalu baik, saya selalu berpikiran kalau orang juga merasakan hal yang sama, mungkin dia menyebalkan marena dibikin kesal sama orang lain. Mungkin kami berdua ini sebenernya korban.  Atau... Saya berprasangka bahwa semua yang dilakukan den...