Tuesday, 28 January 2014

]CERPEN] Falling in Love at A Coffee Shop

Gadis itu ada di sana. Anna masih duduk di semi-sofa yang terdapat di sudut kafe, sofa itu menghadap ke arah luar kafe. Matanya menatap lurus pada satu titik fokus, tapi aku tahu pikirannya menerawang jauh. Dahulu, akulah yang ada di hadapannya, menghalangi pandangan mata Anna yang suka sekali melihat ke arah luar kafe. Terkadang hujan. Terkadang panas terik. Anna selalu suka mengamati ekspresi orang-orang yang kehujanan atau kepanasan dari dalam sini,
kemudian senyumnya akan melebar melihat perubahan mimik wajah yang diperlihatkan orang-orang itu ketika memasuki kafe. Namun senyum itu tidak dapat kutemukan saat ini di wajah Anna. Aku justru melihat tangannya beberapa kali menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dahulu, akulah yang menyeka air mata Anna ketika ia menangis, dan seharusnya saat ini aku pulalah yang menghapus air matanya. Dadaku seketika menjadi sesak. Melihat Anna menghapus air matanya sendirian membuat napasku memburu tak teratur. Melihat air mata yang mengalir di pipi Anna, hatiku teriris pilu turut merasakan kesusahan hatinya. 
“Silakan,” 
Seorang waitress mengantarkan pesanan ke meja Anna. Blackcoffee. Tanpa diberitahu pun, aku sudah tahu minuman yang uapnya mengepul yang ada di atas meja Anna sekarang. Aku dan Anna selalu memesan minuman yang sama. Di kafe yang sama. Aku jadi teringat dengan pertemuan pertama kami di kafe serba kopi ini. Saat itu, untuk pertama kalinya aku datang ke sini. Kedai kopi langgananku gulung tikar, terpaksa aku mencari kedai kopi lain. Dan akkhirnya aku menemukan kafe ini, kafe ramai yang terdapat di pinggir kota.
  “Permisi, aku boleh duduk sini?”
Suara lembut seseorang menahan tegukan Blakcoffee yang baru saja kutiup agar tak terlalu panas dan bisa cepat diminum.
“Tempat duduknya abis, uangku nggak cukup buat nyewa tempat duduk. Hehe.”
Aku mendongakan kepalaku, dan mendapati seorang gadis tersenyum memperlihatkan lesung pipinya di hadapanku.
“Ya boleh, silakan.” Aku melanjutkan tegukan minumku.
“Eng..”
Setelah aku minum, kudapati gadis itu belum duduk dan masih tersenyum.
“Aku.. Aku boleh duduk di sebelah situ nggak?”
“Ha?”
“Iya, sebelah situ. Soalnya dari tempat duduk sebelah situ bisa liat ke luar..”
Walau tak mengerti maksud dari perkataan gadis ini, aku tetap mengangguk, kemudian duduk di sofa seberang. 
Seorang waitress menghampiri kami—mengantarkan pesanan gadis berlesung pipi yang sedang berbinar-binar menatap arah luar. 
“Silakan,”
“Blackcoffe, huh?” Jarang sekali aku melihat perempuan menyukai Blackcoffe.
Setelah itu, obrolan kami berlanjut. Berlanjut pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dan dua bulan kemudian kami memutuskan untuk berpacaran. Anna, gadis periang yang kuanggap sebagai penyempurnya hidupku—seseorang yang hidupnya lebih banyak diam dan berpikir. Anna selalu tahu keinginanku tanpa aku memberitahunya. Berlawanan denganku yang lebih sering bersuara dalam hati.  Ia seperti bisa membaca pikiran dan hatiku. Tebakannya tak pernah melesat. Anna sangat memahamiku. Aku tahu, Anna mencintaiku. Dan aku pun sangat mencintainya.

Aku tak tahan untuk tidak menghampirinya. Aku mendekatinya, berjalan perlahan ke arahnya. Saat aku tepat ada di belakangnya, tanganku terulur ingin mengelus rambutnya.

“Randi?” Aku tersontak kaget. Aku segera menurunkan tanganku yang tadi hampir menyentuh rambut hitamnya.

Anna memutar tubuhnya, menjulurkan kedua tangannya, dan meraba-raba udara. Anna ada di hadapanku, tangannya tepat ada di depan hidungku. Dalam keadaan normal, bahkan ia sudah berhasil menyentuh hidungku.

“Randi.. Aku tahu kamu di sini..” 
Prang! 

Gelas yang ada di meja Anna terjatuh, bersamaan dengan Anna yang refleks berdiri dari tempat duduknya. Air berwarna hitam yang belum sempat diminum oleh Anna menyiprat kemana-mana. Seseorang menghampiri Anna dengan wajah khawatir. Dia sahabat Anna, Kaila. Kaila sedari tadi ada di kafe ini, namun ia duduk di tempat yang berbeda dengan Anna. Kaila mengawasi Anna. 

“Anna, ada apa?” tanya Kaila cemas.

Anna terus berjalan ke arahku, dan dia melewatiku. Tangannya masih meraba-raba udara.

“Randi, Kai! Randi! Randi ada di sini, kan? Iya, kan? Aku bisa ngerasainnya..”

Kaila sontak menangis, lalu ia memeluk Anna.

“Nggak, An.. Enggak. Randi udah nggak ada...”

“TAPI AKU BISA NGERASAIN DIA ADA DI SINI, KAI! KAMU JANGAN BOHONG! AKU BUTA, TAPI AKU MASIH BISA NGERASAIN!” suara Anna menggelegar, membuat mata seisi kafe mengarah padanya. “Kai.. Please. Bilang sama aku, Randi ada di sini,” suara Anna mendadak melembut disertai hujan air mata.

Kaila menuntun Anna ke tempat semula. “Maaf, Ann..”

Tangisan Anna makin menjadi. “Kenapa harus nyawa Randi juga diambil, Kai? Apa mataku nggak cukup buat ganti nyawanya Randi? Apa satu penderitaan aja nggak cukup?” 

Kaila tertunduk, tak tahu harus menjawab apa.

Air mata yang dari tadi kutahan, akhirnya perlahan turun membasahi pipiku. Hatiku terluka, sama terlukanya dengan Anna. Sama menderitanya dengan Anna. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku mengelus rambut Anna perlahan. Tapi aku tak bisa benar-benar menyentuhnya.

“Aku di sini, Sayang... Berhentilah menangis,” gumamku berusaha setegar mungkin. Namun tak ada yang mendengar. Tak ada yang menanggapi perkataanku. Bahkan tak ada yang menyadari kehadiranku. Bagi mereka, aku sudah tidak ada. Aku dan mereka sekarang hidup di dunia yang berbeda.

1 comment:

  1. hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkzzzzzzzzzzzzzzz T_T

    ReplyDelete