Dua Sisi

Jam 11 malam, dan aku baru selesai mandi pasca latihan training center yang tidak aku lakoni berbulan-bulan lamanya. Ya, aku emang males banget untuk melakukan latihan satu itu, kalo bukan karena menjadi atlit Liga Mahasiswa yang akan diadakan dua minggu lagi, mungkin semalam aku nggak akan tc. Apalagi dengan kondisi yang ‘begini’. 
Tapi bukan intinya, semalam sehabis latihan, aku pulang bersama seorang teman. Teman yang mungkin pandangannya tentang sesuatu seringkali membuat orang-orang mengerutkan kening. Kami mengobrol nggak penting seperti biasa, sampai pada suatu obrolan yang menurutku cukup untuk dijadikan bahan tulisan. 

Saat itu, entah apa yang sebelumnya ia katakan, tetapi yang aku ingat aku membalas perkataannya dengan pertanyaan, “Kamu pernah naksir orang nggak, May?” 


“Enggak, paling banter aku cuma kagum. aku nggak pernah suka sama orang sampai melakukan segala hal untuk dia.” jawabnya. 

Aku hanya mengangguk-angguk, tanpa niat untuk menanggapi perkatannya.

“Kalau kamu?” ia balas bertanya.

“Capek, May.” jawabku cepat. Jawaban yang dikatakan tanpa perlu dipikir karena sudah menjadi jawaban refleks. 

“Aku nggak tahu, apa aku yang nggak peka apa gimana.” 

Aku diam. Sebenarnya, untuk orang yang terlalu banyak ‘codet’ di hatinya dan sering berurusan dengan segala macam tetek bengek cinta mungkin akan merasa bahwa temanku ini merupakan salah satu orang yang cukup  beruntung, karena bagi orang yang seperti itu baginya cinta adalah medan perang dan temanku ini belum masuk ke medan yang banyak ranjaunya itu. 

Itu sama seperti misalnya Indonesia pada masa penjajahan, ada beberapa orang yang punya nyali besar dan cinta sekali pada bangsanya sehingga ia memillih untuk membela negara meski hanya berbekal bambu runcing. Nah, pada konteks ini, temanku ini diumpamakan bukan sebagai rakyat Indonesia yang bernyali besar itu, bukan juga rakyat Indonesia biasa yang berdiam diri namun tertekan dibawah kekuasaan penjajah.

Temanku ini seperti putri bangsawan penjajah. Hidupnya tidak berpengaruh pada perang yang terjadi di luar sana. Ia tidak peduli kepada seorang yang harus meninggalkan teman, keluarga dan kekasihnya tanpa kepastian bisa pulang dengan selamat hanya untuk memperjuangkan kemerdekaan negaranya. Putri bangsawan itu tidak perlu peduli. Ia tidak dituntut untuk PEKA. 

Enak, kan, jadi putri bangsawan? Mau? 

Jujur, meski aku sudah mencapai titik jenuh, eneg, dan mau muntah dengan medan perang yang ranjaunya bertebaran di mana-mana itu, tetapi aku nggak bisa bilang sama temanku, ‘kamu beruntung, May. Setidaknya kamu bisa fokus dengan hidupmu, nggak harus berurusan sama sesuatu yang sebenarnya nggak penting.’ 
Di sisi lain, aku ‘prihatin’ dengan temanku ini.  Ia hampir berumur 20 tahun, dan belum pernah tertarik kepada lawan jenisnya. 

Aneh?

Buatku yang belum pernah menemui orang seperti ini, mungkin iya. Cinta itu medan perang dan kamu bisa mati karenanya, TAPI BUKAN BERARTI KAMU BISA LANGSUNG MATI DI SANA. Karena sesungguhnya meskipun kamu mati, kamu mati dengan terhormat. Sama, kan, kayak perumpamaan yang masa penjajahan tadi? Walau kamu mati, kamu tidak mati dengan sia-sia. Dan kalo kamu memiliki bekal yang cukup selain bambu runcing seperti kemampuan bela diri, bisa saja kamu tidak mati, meski akan luka sana-sini. Lalu ketika kamu tidak mati, kamu akan mencapai kemerdekaan seperti yang kita rasakan sekarang, semuanya berkat orang-orang yang meninggalkan teman, keluarga dan kekasihnya. Berkat mereka memutuskan berjuang di medan perang. 

Mereka yang terus berjuang dan akhirnya mendapat kebahagiaan. Mereka yang disebut berjodoh.

Kemudian, aku mengonfirmasi alasan mengapa temanku tidak tertarik kepada manusia keturunan Adam itu. Dan jawabannya sedikit pshyco, dia dengan enteng menjawab, “Aku nggak mau sakit hati. Aku lebih senang menyakiti orang daripada disakiti,” 

Nah lhooooooo, kalau jawabannya seperti itu, aku harus membalas jawabnnya dengan apa?-_-v 

Comments