Hilang

Terlalu berlebihan sepertinya, jika aku terus-menerus berputar dalam ingatan tentangnya. Dia bukan siapa-siapa. Dia bukan apa-apa. Dia tidak pernah melakukan hal yang seperti ‘orang yang kuanggap harga mati saat ini’ lakukan kepadaku. Dia belum menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Kecuali dia membuatku merasakan indahnya cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan. Kecuali dia menjadi orang yang smsnya kutunggu setiap pagi, siang dan malam. Kecuali dia yang selalu mengingatkanku makan dan jangan minum es. Kecuali dia yang membuat aku ngerasa diperhatiin. Hanya itu. Dan semuanya bersifat sementara, 2 bulan 13 hari. Aku ngerasa berdosa kalo inget-inget tentang dia. Ada sesuatu di dalam otakku yang selalu berontak tiap aku pengen galauin atau sekedar kangen sama dia. Mungkin di saat seperti ini lah hati harus mengalah pada otak. Hati harus membiarkan otak melakukan tugasnya menghapus sakitnya hati yang kurasakan. Aku berpikir nggak seharusnya aku nangisin dia. Dia nggak ngasih apa-apa. Kecuali kata-katanya tentang ‘kesetiaan’ yang masih aku ingat dan sebentar lagi bakalan aku lupain. Bahkan setelah pergi dia sama sekali nggak ngontak aku. Bukannya aku pengen berhubungan lagi sama dia, tapi ya dia emang bener-bener nggak perduli lagi. Dan nggak ada lagi yang harus diharapkan. Nggak ada alasan buat aku stuck sama dia.

Mungkin aku hanya ngerasa kehilangan. Bukan kehilangan orangnya. Aku kehilangan perhatiannya. Aku kehilangan perasaan bahagia setiap aku menerima sms. Aku kehilangan perasaan hangat yang menjalari seluruh hatiku ketika aku dipanggil, ‘Sayang’. Aku kehilangan perasaan khawatir terhadap seseorang yang aku sayangi saat aku tahu dia sakit. Aku merindukannya. Aku merindukan perasaan dicintai mencintai, disayangi menyayangi, dikhawatirkan mengkhawatirkan, dan  diperhatikan memperhatikan. Hanya itu. Dan perasaan itu bisa aku dapat dari orang lain, bukan hanya dia. Waktu. Hanya waktu yang bisa mengatasi rasa rinduku. Entah kapan waktunya.

Comments