Sunday, 22 December 2013

saya (harap) baik-baik saja

Munafik, kan, kalo aku ngomong, “aku baik-baik aja.”? Ya mungkin aku nggak bakal bilang aku munafik kalo setiap bangun pagi aku nggak nangis karena inget kata-katamu, “aku sayang kamu. Mau nggak jadi pacarku?” atau “kamu jangan pernah pergi dariku, yah.” Atau yang paling kampret, “kita udahan aja, ya. Kamu harus kuat. Kamu boleh kok benci sama aku, biar kamu bisa lupa sama aku..” Tapi ternyata, setiap pagi aku ngeliat kaca, di sana ada cewek yang mata dan hidungnya merah dengan bekas air mata di pipinya.
Aku nggak bakal jadi orang yang munafik, kalo aja aku ngerespon temenku pas dia lagi ngomong samaku, bukan malah diem dan melamun dengan perasaan dan pikiran kosong. Tapi ternyata, aku selalu diomelin temenku gara-gara aku diminta pendapat sama temenku dan aku cuma bisa bilang, “emang tadi kamu ngomong apa?”-_-
Sebenernya, kata-kata “aku baik-baik aja,” yang meluncur dari mulutku bukan bentuk dari perasaan yang aku rasain saat itu, melainkan itu kata-kata pengharapan. Aku berharap setelah aku ngomong, “aku baik-baik aja,” Aku bakal ngerasa kalo aku emang baik-baik aja. Aku terlihat baik-baik aja, memang karena aku PENGEN terlihat baik-baik aja. Walaupun kenyataannya enggak. Bukan karena aku munafik. Bukan karena aku membohongi diri sendiri. Aku nggak pernah mencoba untuk ‘pura-pura’. Aku nggak pernah pura-pura kuat. Aku hanya pengen meyakini diri sendiri kalo aku kuat. Aku HARAP aku kuat. 
Jadi, setiap aku ngomong, “aku baik-baik aja.” Makna sesungguhnya bukanlah, “aku nggak baik-baik aja.” Tapi sebenernya yang aku katakan adalah, “aku HARAP aku baik-baik aja.” 

No comments:

Post a Comment