[CERPEN] Satu-satunya Yang Percaya

Aku melihat ke arahnya yang masih sibuk memainkan Clash of Clans—ah, permainan itu, rasanya ingin kulenyapkan dari muka bumi. Aku yakin bukan aku saja yang ingin melakukan hal yang sama kepada permainan yang membuat semua wanita kehilangan perhatian dari pasangannya itu, eh tapi tunggu, dia, kan bukan pasanganku—bukan lagi, lalu mengapa aku harus mengeluh? 

Aku mendengus, bukan karena ia masih serius dengan permainannya itu—padahal sudah sekitar sepuluh menit aku memandanginya berharap ia sadar bahwa ada gadis manis yang sedang memperhatikannya. Bukan. Bukan itu yang membuatku mengeluh. Tetapi ingatan bahwa aku bukan lagi orang yang berhak kesal dengan kehilangan perhatian pasangannya karena kenyatannya, AKU BUKAN KEKASIHNYA LAGI. Itu yang membuatku kadang-kadang depresi. 


“Say.”

“Hmm...” Ia menjawab panggilanku, namun kepalanya masih tertunduk melihat smartphone-nya. 

“Aku mau tanya.” 

Dia meletakan smartphone-nya. “Tanya apa?”

“Sebenarnya, apa yang bikin kita berpisah, sih?” 

Dia memandangku lekat-lekat, tanpa suara. 

“Banyak yang bertanya padaku alasan kita putus, tapi saat aku ceritakan keadaan yang sebenarnya, mereka malah tersenyum bahkan, ada yang tertawa. Mereka bilang, itu hanya akal-akalanmu saja.” lanjutku. 

“Kamu nggak percaya samaku?” Dia membalas perkataanku dengan cepat. 

Aku menarik napas panjang. Sejujurnya, aku tidak suka dengan keadaan serius seperti ini. Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya, pertanyaan tentang alasan mengapa aku masih rutin berhubungan dengannya, mengapa ia masih memperlakukanku selayaknya aku kekasihnya, dan masih banyak mengapa lainnya yang ingin kulontarkan, namun saat ini aku hanya ingin memastikan satu hal, alasan jujur tentang alasan dia lebih memilih berpisah daripada berjuang untukku. 

"Aku ingin percaya padamu, tetapi jika itu terjadi, aku akan menjadi satu-satunya orang yang percaya kepadamu... Rasanya aku seperti orang bodoh, percaya dan yakin pada suatu hal sendirian tanpa bukti apa pun. Itu sama seperti aku meyakini agama yang tidak ada."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, namun aku berusaha keras untuk tidak membiarkannya jatuh ke pipi.

"Kamu berhak tidak percaya padaku. Kamu boleh percaya dengan perkataan semua orang, karena mereka mengenal masa laluku. Mereka memberikanmu banyak bukti untuk tidak percaya kepadaku." 

Aku diam. Dia diam. Hanya hembusan napas yang mengisi kekosongan di antara kami.

Setelah berpikir beberapa lama, aku menemukan kalimat yang tepat untuk membalas perkataanya. 
"Mengapa semua mengatakan bahwa percaya kepadamu adalah hal yang bodoh? Mengapa semakin aku mencari orang yang dapat meyakinkanku untuk percaya, yang kuterima justru aku semakin meragu padamu?"

"Karena mereka bukan aku. Mereka tidak merasakan yang kurasakan. Mereka tidak tahu hidupku sekarang, mereka hanya tahu bagaimana aku di masa lalu. Padahal aku sudah berada jauh dari sana. Banyak hal yang terjadi, dan itu membuat hidupku berubah. Aku tidak akan memaksamu jika memang semua orang yakin bahwa percaya kepadaku adalah sebuah kebodohan."

Kali ini aku tidak sanggup menahan air mataku keluar dari persembunyiannya. 

"Aku percaya kepada yang benar, bukan kepada yang lebih banyak diyakini orang. Jika kamu benar, aku akan percaya padamu. Tetapi tolong katakan sesuatu untuk meyakinkanku kembali..." gumamku sambil terisak. 

"Jika kamu percaya padaku, aku tidak akan pernah membohongimu. Itu saja." 

Kemudian, ia mengusap kepalaku lembut, hal itu membuat air mataku jatuh semakin banyak. Baru kusadari, aku sangat sangat sangat merindukannya. 

“Aku percaya.” ujarku akhirnya di tengah isakan. Entah ia mendengar, entah tidak, aku tidak peduli. Aku hanya ingin percaya padanya. Sekali lagi. 

Comments