Posts

Berakhir Sampai Di Sini

Hari-hariku udah cukup semerawut dua minggu belakangan ini. Kuliah bisa dibilang nggak sukses. Kamar berantakan. Hidup nggak teratur. Nggak fokus, males-malesan, lupa caranya senyum yang tulus, lupa caranya membuat bahagia diri sendiri dan segala macam efek biasa patah hati lainnya yang buat hidupku kayak Zombie. Saking seringnya, aku sendiri hapal dengan hal-hal kayak gini dan yang terjadi selanjutnya, sesuai dengan hapalanku. Kali ini sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Awal bahagia. Akhir nangis darah. Entah harus berapa kali aku mengulang fase yang sama lagi. Kenal – Deket – Suka – Jadian –  Dibikin bahagia – Dibikin bahagia banget – Dibikin bahagia sekali sampe cinta mati – Terjadi sesuatu yang tidak diinginkan – Memburuk – Makin parah – Didiemin, dibikin panik, dibikin bingung, dibikin nangis – Putus – Nangis gulung-gulung dikamar – Galau – Susah move on – dan akhirnya bisa move on karena dibikin bahagia sama orang lain.  Sugesti A sampe Z untuk memperpend...

Intermezo

"Cinta adalah purba. Dia dimakan tahun, dihabisi oleh senja, tetapi tetap saja bertahan untuk tak menua. Cinta adalah purba, tema itu-itu saja yang terus mengabadi dalam cerita. Kau bisa menemukan cinta dalam cerita paling tua, di tiap belahan bumi mana saja. Cinta seperti terserak dan setiap orang memungutnya dengan bahagia. Dari dongeng naif Cinderella, kisah tak sudah Rama dan Sita, hingga cerita panjang tentang Paris dan Helene dalam  perang Troya, kau menemukan pemicu yang sama, cinta.  Mitologi dari seluruh dunia, cerita rakyat dari seluruh pelosok-pelosok tak bernama, semua mengirimkan kisah yang sama purbanya. Namun,  kau juga tahu itu benar—yang dikatakan orang-orang—bahwa cinta tak melulu tentang langit biru dan matahari yang teduh. Cinta bukan hanya gula-gula manis dalam mimpi kanak-kanak.  Dan, tak sekadar tentang berjalan bersisian dengan hati berirama bersahutan. Cinta mampu menjelma gulita, sampai kau merasa sesak karena tak bisa menebak ar...

*angkat tangan*

Persetan dengan privasi. Aku cuma pengen nulis, curhat, nangis, apa saja yang bikin aku jadi lebih baik. Meskipun aku tahu, nggak ada yang bisa bikin lebih baik selain restu dari ibunya.   Yeaaah... Setelah berurusan dengan pacar orang dan ditinggal dengan yang lain, inti dari masalah percintaan kali ini adalah RESTU ORANG TUA. Nggak ada yang bisa aku apa-apakan dari itu, Suka sama pacar orang bisa aja terus berjuang dekat dengan orangnya sampe mereka putus. Ditinggal demi cewek lain bisa aja aku membenci dan menghujatnya dengan bermacam-macam sumpah serapah. Tetapi, putus karena nggak dapet restu? Aku harus menyalahkan siapa? Menyalahkan nenek moyangku? Menyalahkan masa lalu?  HISH. NGGAK ADA GUNANYA-_-  Nggak ada yang bisa aku salahkan. Atas semua yang telah terjadi, nggak ada gunanya disesali. Harusnya semua orang bisa berpikir begitu. Tetapi semua orang punya sudut pandang yang berbeda-beda. Itu letak salahnya. Dan kalau saat ini nggak ada...

Terbengkalai Kemudian Terlupa

Bukan. Itu bukan curhat yang bermodus judul, kok. Dan isi tulisannya juga nggak akan mengarah ke ‘sana’. Ke sana. Ke diaaa *lirik*.  Ya bohong, sih, ntar juga pasti bakal menyerempet ke sana juga. Dia kan udah paket lengkap sama tulisan-tulisanku. Walaupun sekalimat, pasti ada aja sesuatu yang berhubungan sama itu orang. Haha maaf labil :D  Kembali ke topik yang bukan dia, jadi yang terbengkalai selain hati dan perasaan - ku, yang paling paling memprihatinkan adalah proyek menulis-ku yang seharusnya sudah setengah jalan, (terpaksa) tertunda lagi. Tertunda untuk selamanya lagi mungkin. :( *nangis sambil garuk-garuk aspal*  Alasannya tentu saja sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijadikan alasan, karena SEHARUSNYA kalau aku memang berkomitmen menyelesaikannya nggak ada namanya sesuatu yang bisa menghambat komitmenku itu.  Sama kayak kalo memang kamu merindukan seseorang dan ingin bertemu dengannya, nggak ada alasan remeh seperti “Takut dibegal” atau “Bukan ...

Untuk Yang Jauh

Apa kabar hati yang kutitipkan padamu? Masihkah dia menempati seluruh ruang di hatimu?  Atau kini dia ada di ruang yang sempit, sendirian dan hanya sesekali kau tengok lantaran ruangmu yang lain sudah penuh dengan kesibukan dan lelah fisik?  Sebagai pemiliknya, aku merasa ia ditempatkan pada pertanyaanku yang ketiga. Aku, sebagai pemiliknya juga, tahu benar keadaannya.  Ia sekarang sedang sekarat, Sayang.   Kau tak memperhatikannya 'kan? Mungkin beberapa kali kau datang ke ruangan itu, tetapi  kau menempatkan hatiku di ruang yang terlalu gelap sehingga kau tidak melihat keadaanya yang berantakan.  Tetapi ia tak mempersoalkannya.   Karena ia mencoba untuk memahamimu. Memahami keadaan saat ini yang jelas-jelas bertentangan dengan keinginannya. Berat, Sayang. Apa lagi dia berjuang sendiri. Ia berjuang sendiri untuk kebahagiaan kita berdua.  Kuat sekali, ya dia? Aku saja tak menyangka dia bisa bertahan dengan semuanya. ...

Cerita yang lainnya...

Blog sedang kututup untuk umum. Enggak buat selamanya, kok Pengin berbenah, sih, sebenarmya. Tapi kok males? :| Mumpung lagi mengasingkan diri atau diasingkan lebih tepatnya, jadi karena nggak ada yang bisa dikerjakan, harusnya bisa menata blog, dan menulis.  Kalo menulis, sih, sampai saat ini aku sudah mendapat ide yang menurutku bisalah diperjuangkan untuk menulis tingkat lanjut.  Tapi masalahnya, aku jadi kaku. Kekurangan kosa kata. Dan pengin buru-buru menyelesaikan cerita saking nggak tahu lagi harus menulis apa. Hasilnya, masih di halaman ketiga dan ceritanya bahkan belum setengahnya, aku udah mikir, "Ini tulisan siapa? Jelek amat. Tutup ah."  Dan lagi-lagi cerpen-ku terbengkalai.  Ya bagaimana pun juga, bisa nggak bisa harus dipaksa. Lagi pula, aku lagi niat-niatnya nulis. Pokoknya selama aku mengasingkan diri, minimal tiga judul cerpen bisa selsai.  Terus juga, yang membuat niat menulisku tinggi saat ini karena aku  membutuhkan pe...

Liburan Rasa Jomblo

Ya begitulah. Ini hari kesekian belas hari aku liburan. Dan yang aku rasain selama liburan… aku jomblo. Ada beberapa hal yang bikin liburanku rasanya gabut alias suwung alias jomblo: 1. Jomblo dalam arti sebenernya. Si Pacar lagi sibuk di belahan bumi bagian mana, sibuk dalam arti sebenarnya juga. Bahkan aku ngerasa, dia lebih sibuk pas liburan. Dia sibuk latihan latihan latihan dan latihan. Telepon, sms, bbm juga jarang. Di awal-awal liburan, emang itu ganggu banget buat aku. Aku lagi libur dan selo dan nggak ada kerjaan, jadi 7 hari 24 jam 60 menit 3600 detik aku penggang hp, dan aku harap seharian kami berdua berkomunikasi. Tapi dia, latihan sehari 3 kali dan waktu luangnya dipake buat tidur—dia capek, dia harus jaga kondisi badan dan bla bla bla. Cewek mana yang nggak nuntut perhatian? Cewek mana yang nggak pengen dimanjain—apalagi dalam keadaan jauh? TAPI… COWOK MANA YANG NGGAK MAU DINGERTIIN? Aku ngalah, dan aku milih buat ngertiin dia. Mengingat dan menimbang segala hal bai...