Posts

Enggan Beranjak

Ada yang dengan sadar merelakan diri untuk tersakiti. Bukan hanya sekali, namun tiap kesempatan seakan tambak runcing menembus ulu hatinya. Memeras paksa hatinya hingga yang tersisa hanya bongkahan kecil yang telah mengkerut.  Berkali, sudah kukatakan jangan lagi mengorbankan diri. Jika itu cinta harusnya ia tidak tersiksa. Bila yang ia rasa bernama sayang, tak seharusnya justru membuatnya menangis bermalam hingga tiada ujungnya.  Dia, si keras kepala.  Dia, yang enggan beranjak. Dia, yang rela menyakiti diri sendiri hanya untuk mendapat kebahagiaan semu. 

#10 Jangan Lakukan Lagi Ya, Aku

Hal yang berjanji tidak akan kulakukan lagi. Errrr... Gegara paketan habis aku nggak bisa nge-posting tantangan hari ke-10 dengan tepat dan terpaksa molor satu hari.  PFT. Challanger macam apa!  Jadi begini, kita langsung saja ke inti postingan. Aku sering sekali merenung sendiri. Apa ya namanya, meditasi diri? Merenung tentang hal-hal yang sudah kulewati, pelajaran apa yang sudah kuambil dari setiap kejadian, kemudian bertanya pada diri sendiri tentang mau jadi apa aku besok? Gimana perasaanku sekarang? Intinya aku ngobrol dengan diri sendiri.  Hasil mengobrol biasanya, saku akan bernapas lega dan bersyukur dengan apa yang telah terjadi.  Tapi nggak jarang juga obrolan kami (aku dan aku) berjalan tidak lancar, terkadang setelah mengobrol, pikiranku jadi malah kalut.  Persoalannya selalu satu: jika obrolan kami tidak lancar hal tersebut dikarenakan aku "masih" menyesali keputusan hidup yang tidak sepenuhnya dari hati. Misalnya, ak...

#9 Mas, Jadi Sebenernya...

Menulis sebuah surat untuk seseorang. Jangan kege'eran dulu. Aku nulis ini bukan karena sepenuhnya aku suka sama kamu (berarti setengahnya iya), tapi pas aku berpikir "mau bikin surat buat siapa, ya?" yang muncul di kepalaku langsung kamu. Mungkin karena kita terlalu sering ketemu. Delapan jam sehari. Enam hari seminggu.  48 jam seminggu. 1440 jam sebulan, dikali tiga karena udah tiga bulan kita ketemu: 4320 jam. 259200 menit dan 15552000 detik pertiga bulan. Lihat!

#8 Aku Nggak Begini, Suer!

Fakta yang berlawanan dengan opini orang lain tentang diriku? Langsung aja, nggak usah pake basa-basi, ya. Soalnya ini udah pukul sembilan malam, anak sekolah nggak bagus tidur larut. Besok juga harus pendalaman materi pukul 06:30.  Sesuatu yang berlawanan dengan opini orang tentangku adalah: 1. Dikira Jones (Jomblo Ngenes), padahal Jojoba (Jomblo-Jomblo Bahagia) Mungkin karena aku sering banget godain mas-mas di kantor dan keseringan curcol nggak tahu waktu, apalagi curcolannya bawa-bawa perasaan, hati, mantan, jodoh dan kawan-kawannya aku jadi kelihatan ngenes banget gitu. Mungkin banyak yang berpikir aku godain dan curhat nggak tahu waktu itu efek dari aku kelamaan jomblo. Padahal nyatanya nggak begitu, aku suka godain orang ya emang karena suka aja, kalau pun aku nggak jomblo rasanya aku tetep rajin gombalin orang, kok. Hehe.Aku masih santai aja sama status jomblo sekarang, nggak ngebet punya pacar. Enggak ngebet pengin PDKT sama siapa. Intinya aku lagi menikmati m...

#7 Permintaan Bapak Kepada Melia

Image
Rumah ini tidak sama lagi dengan ketika terakhir kali aku ke sini beberapa bulan yang lalu. Aroma bunga melati yang kuhirup sudah hilang, kembali berganti dengan aroma rumah yang familiar di hidungku.  "Kamu tidur sama Ibu, kan? Pakaianmu langsung disatukan sama pakaian-pakaian Ibu aja..."  "Pakaian Bapak?" aku bergumam pelan, aneh rasanya menyebut Bapak.  "Sebagian besar sudah Ibu sumbangkan..." Nada suara Ibu tak kalah paraunya dengan suaraku.  Aku mengangguk patuh, tapi masih enggan beranjak dari ruang keluarga. Mataku menyusuri satu persatu foto yang memenuhi ruangan. Foto masa kecil, wisuda, pernikahan, lebaran dan semua momen yang diabadikan tak hanya menjadi pengias buku album. Bapak selalu mencetaknya beberapa kemudian ditempelkan pada pigura, lalu memajangnya di ruang keluarga. nemu gambarnya di pinterest. "Biar Bapak sama Ibu merasa kalau anak, menantu dan cucu kami ikut menonton televisi juga. Biar kami nggak merasa h...

#6 Kebanggaan Receh Yang Membawa Kebahagiaan

Ceritakan di mana kamu membanggakan sesuatu di saat orang lain meremehkan!  Aku nggak pintar-pintar amat. Rada sengklek, apalagi urusan hitung-menghitung. Lihat satu angka aja udah pusing duluan. Apalagi ditambah X dan Y,  bisa-bisa aku pingsan, tapi sebelumnya muntah dulu.-_- Aku juga nggak cantik-cantik amat. Yah, karena yang cantik itu mbosenin, jadi aku lebh suka dibilang manis. Yah, soal fisik dan otak emang nggak ada yang bisa dibanggakan. Untungnya aku masih hidup, hehe. Tema kali ini bikin aku muter otak banget. Nyari sesuatu yang bisa kubanggakan itu kayak nyari jarum di tumpukan jerami atau kayak nyari jodoh yang alim dan budiman, tapi nyarinya di diskotik. Hmmm... Tapi ada satu. Satu hal yang mungkin orang lain nggak punya, dan aku punya. Apa itu? Teman. Enggak hanya satu, dua. Aku bersyukur punya banyak teman dekat yang memiliki beragam karakter. Mau yang ceplas-ceplos dan dengan gampangnya bilang 'bego' kalau aku lagi salah? Adaaa. Mau tem...

#5 Nonton Ala Ujian Nasional

Image
Apa film yang paling berkesan buat kamu? Ah, dari lima hari, aku sangat menyukai topik ini. Menuliskan tentang film. Tiga, hanya boleh menyebutkan tiga film yang paling berkesan untukku. Padahal kalau bisa sepuluh, mungkin aku mampu menuliskan semuanya. Tapi dengan jumlah yang terbatas ini, aku jadi bener-bener mikir, kira-kira film apa yang bakal kutuliskan, jadi ketiga film ini bukan hanya favorit, tetapi meninggalkan bekas di relung hatiku. Tsah.  Apa aja itu? INSIDIOUS CHAPTER 3 Buat yang belum tahu, Insidious ini film bergenre horor yang paling ditunggu-tunggu waktu itu. Bioskop selalu penuh ketika sedang memutar di film ini. Aku dan ketiga temanku (Monika, Sesil dan Cintia) yang ngakunya penggemar film horor juga nggak mau ketinggalan buat nonton film ini. Sebelumnya, mereka bertiga juga udah pemanasan nonton Chapter 1 dan 2-nya di kos. "Mbak, maaf. Insidious-nya masih ada empat kursi, tapi semuanya terpisah, Mbak. Yang berjejeran udah habis..."  ...