Hai, Chelsea!

Kalo lagi nggak sibuk, mau nggak baca ini bentar jawab pertanyaannya terus dikomen?
Menurutmu, Chelsea itu orang yang gimana, sih? #riset


    Namaku Chelsea Purnama. Aku lahir di Yogyakarta pada tanggal 20 Mei 1997. Saat ini, aku menjadi salah satu siswi kelas dua belas di SMA Pancasila, Yogyakarta. Aku kembali ke Yogyakarta sekitar satu bulan yang lalu. Kembali? Ya. Dua tahun yang lalu, tepatnya ketika aku baru melepas masa putih biru-ku, aku dan Papa pindah ke Jakarta. Di Jakarta, aku hidup bersama Papa dan istri atau ibu baruku. Aku memanggil istri baru Papa itu dengan sebutan Bunda. Kami bertiga hidup dengan bahagia, Bunda memainkan peran sebagai ibu dengan baik, sangat baik malah. Image buruk tentang ibu tiri yang kejam dan suka memerintah sama sekali tak kudapatkan pada Bunda.



    Perhatian dan kasih sayang Bunda membuat aku lupa pada ibu kandungku. Orang yang melahirkanku. Yang kuingat terakhir kali tentangnya adalah, wajah kecewanya melihatku karena aku lebih memilih tinggal bersama Papa daripada bersamanya di Yogyakarta.

    Kebahagiaan kami bertiga ternyata tak berlangsung lama, satu setengah tahun kemudian, Papa meninggal. Sejak itu, Bunda menjadi pekerja keras, ia menanggung semua urusan yang awalnya diurus oleh Papa.
   
    Karena suatu hal, Bunda memintaku kembali ke Yogyakarta. Walau berat, akhirnya aku menuruti permintaan Bunda. Aku kembali ke Yogyakarta dan tinggal bersama Mama, ibu kandungku. Baik aku maupun Bunda, sama-sama berharap dengan kembalinya aku ke Yogyakarta, dapat membuat aku dan Mama berdamai dan melupakan segala kejadian yang tanpa sengaja menyakitinya.

    Seperti yang kutakutkan sebelum aku kembali ke Yogyakarta, Mama menanggapiku dengan dingin. Tidak ada sambutan, pelukan apalagi ciuman yang dahulu kurasakan jika aku pulang ke rumah. Mama masih marah kepadaku. Tetapi, yang membuat secercah harapanku muncul bahwa aku dan Mama masih bisa berdamai adalah kata-kata Bunda tentang pintu maaf seorang ibu yang akan selalu terbuka untuk anaknya. Dan juga, aku rasa aku punya harapan, karena Mama memperbolehkan aku untuk tinggal bersamanya.

    Satu bulan berlalu, hubungan antara aku dan Mama tak mengalami perkembangan. Kalau bukan karena Bunda yang selalu mendukung dan mengingatkanku kalau Mama adalah orang yang pertama memberiku kasih sayang, aku pasti sudah menyerah, kembali ke Jakarta dan kembali tinggal bersama Bunda. Tetapi, kembali ke Jakarta sebenarnya bukan pilihan yang baik, Bunda sedang berjuang di sana, dan aku tidak mau merusuhinya dengan kehadiranku. Mungkin aku memang harus tetap di sini, dan mendapatkan Mama-ku kembali. Mama-ku yang dahulu. Mama yang menyayangiku.

    Satu-satunya teman yang kumiliki saat ini adalah Tiara. Aku berteman dengan Tiara sejak aku SMA di Jakarta. Aku sendiri tak menyangka bisa berteman dekat dengannya. Sejak awal kenal dengannya, aku merasa tak cocok dengannya. Dan aku pun merasa dia merasakan hal yang sama denganku. Namun, karena satu peristiwa, kami menjadi teman dekat. Bahkan, saking dekatnya dan terlalu nyaman berteman dengannya, aku tidak sempat mencari teman lain dan hanya memiliki satu teman, Tiara.
   
    Tiara menjadi satu-satunya orang yang paling sedih dan shock karena kepindahanku ke Yogyakarta. Pasalnya, selama dua tahun aku berteman dengannya, aku tak pernah bercerita tentang seluk beluk keluargaku yang termasuk—ehem—rumit. Saat kuberitahu pun, aku hanya bercerita garis besarnya. Aku tak bercerita bahwa aku dan Mama sudah lama lost contact, aku juga tak bercerita bahwa sebenarnya ada satu hal menyedihkan yang membuatku enggan tapi harus untuk kembali ke Yogyakarta. Ya. Selama ini, Tiara lah yang banyak bercerita. Aku tahu segalanya tentang Tiara, tetapi tidak sebaliknya.

    Belakangan ini Tiara mulai curiga denganku, dia sudah mulai tahu kalau banyak hal yang tak aku ceritakan padanya. Setiap ia menelepon, ada saja yang ditanyakannya tentang hubunganku dengan Mama yang agak menyedihkan ini. Tapi aku tak bisa bercerita banyak, aku hanya bercerita sekenanya agar dia tak menanyaiku terus-menerus. Aku tidak mau Tiara kasihan padaku. Aku benci dikasihani. Aku hanya ingin Tiara tahu, bahwa aku tidak apa-apa, walau sebenarnya aku tak sepenuhnya baik. Siapa yang bisa bilang dirinya baik-baik saja ketika ia tidak diacuhkan oleh ibu kandungnya sendiri?
   
    Satu lagi orang yang selalu menanyaiku. Cakra. Cakra adalah mantan pacarku semasa SMP. Walau dia termasuk dalam kategori cinta monyet, tapi tidak bagiku, entahlah dengannya. Cakra satu-satunya laki-laki yang ada di hati dan pikiranku sejak dahulu hingga sekarang. Kami berpacaran dan terpaksa putus karena kepindahanku ke Jakarta. Aku memutuskannya bukan karena aku tak bisa menjalani hubungan jarak jauh, hanya saja, aku tak mau Cakra tahu tentang perceraian Mama dana Papa. Alasannya? Sama seperti alasan aku tidak mau bercerita dengan Tiara. Aku tidak mau dikasihani oleh Cakra. Biarlah dia marah padaku saat kuputuskan secara sepihak dan tanpa alasan, yang penting Cakra tidak tahu kalau aku sedang menderita karenanya.

    Aku tidak tahu, satu sekolah dengan Cakra merupakan keberuntungan atau kesialan untukku. Satu sisi aku merasa bahagia karena aku dipertemukan lagi dengannya, dan juga merasa senang saat aku tahu Cakra sudah melupakan kemarahannya tentang keputusanku yang sepihak meninggalkannya. Cakra tidak berubah. Perlakuannya masih sama seperti dahulu, membuat kupu-kupu yang sempat mati kini berterbangan lagi di dalam perutku.
   
    Namun, meskipun menyenangkan, aku rasa aku segera menjauh darinya. Cakra tidak boleh tahu kalau aku sedang mengalami konflik berat dengan Mama. Lagi pula, beredar gosip bahwa Cakra sedang dekat dengan teman SMP dan sekarang menjadi teman SMA Cakra, Sabrina. Masalahku sudah rumit, aku tidak mau dirumitkan lagi dengan masalah cinta. Tetapi, apa bisa aku menjauh darinya?

    Aku harap si penulis yang sak karepe dewe ini menuliskan kisahku dengan baik. Dan juga tidak harus menggantung berlama-lama tentunya. Pahamilah, kisah yang dibiarkan menggantung itu tidak baik.

Comments

  1. Hihi kamu pakai nama Cakra juga? :p

    ReplyDelete

Post a Comment