Monday, 19 May 2014

Here, After, hal 1-3 (oleh Mahir Pradana)

    Selama ini, kita percaya bahwa cinta adalah hal terkuat di dunia. Apapun bisa dikalahkannya.
    Omong kosong.
    Cinta adalah penipuan terbesar yang diciptakan oleh umat manusia.
   
    Mungkin, kita sudah terlalu sering dibuai oleh dongeng indah tentang sepasang anak manusia yang berbeda satu sama lain, tetapi dapat bersatu mengatasi semua rintangan di akhir cerita. Apa sih, yang sekarang tidak bisa disatukan oleh cinta? Kaya-miskin. Tua-muda. Normal-cacat. Manusia-alien. Semua bisa bersatu karena cinta.
   
    Bahkan, imajinasi manusia pun semakin kreatif. Sekarang, rintangan bagi dua sejoli agar dapat bersatu ddalam cinta bukan hanya ibu tiri yang jahat, tapi kehidupan itu sendiri pun dianggap sebagai salah satu penghambat. Jadi, jika ingin cinta yang abadi, musnahkan saja kehidupan itu. Bunuh diri saja dan cinta akan hidup abadi meskipun tidak berada di dalam raga manusia. Manusia boleh mati, tetapi cinta boleh hidup selamanya. Itu kan, yang disampaikan lewat omong kosong klasik seperti Romeo and Juliet?
   

    Ha-ha. Andai saja semudah itu.
   
    Sampai kapan pun, ekstensi ‘cinta sejati’ akan selalu mengundang pertanyaan. Dalam mencari tahu asal-usulnya, kita takkan memperoleh suatu kesimpulan yang memuaskan. Sama saja seperti mencari pantat ular.
   
    Kemungkinan pertama: seseorang akan menjawab, “Well, ‘cinta sejati’ emmang ada.” Namun—dalam penjelasnnya pun tetap ada ‘namun-nya’--, ‘cinta’ itu berada di suatu tempat yang sangat jauh di alam yang sama sekali tidak bisa ditangkap oleh akal pikiran. Ia hanya bisa dipahami oleh bagian ter-‘suci’ dari jiwa dan raga manusia, yaitu hati. Jadi, hanya orang-orang yang punya hatilah yang bisa merasakan cinta.
   
    Oke, wow, bravo! Penjelasan yang bagus. Jadi sekarang pelaku utama adalah hati, heh?
   
    Kemungkinan kedua: ‘cinta sejati itu tidak ada’. Tetapi, justru di sinilah susahnya. Otak manusia selalu memimpikan sesuatu yang tidak nyata sehingga menciptakan bayangan sendiri, seolah-olah bayangan itulah yang nyata. Hanya orang bodong yang menganggap hantu adalah sesuatu yang nyata, kan? Tetapi, saking seringnya orang-orang membicarakannya, hantu pun seolah “benar-benar” nyata dan banyak orang yang mengaku telah melihatnya meskipun yang mereka lihat hanyalah bayangan dari dahan pohon yang melambai dalam gelap. Dalam hal ini, seperti itulah nasib teman kita, si ‘cinta sejati’. Ia tak lebih dari sekadar bayangan yang dianggap nyata oleh jutaa orang sehingga akhirnya menjadi dongen di dalam buku dan televisi. Dari Cinderella hingga Romeo and Juliet, kisah picisan seperti ini selalu diceritakan turun temurun sehingga akhirnya, dari waktu ke waktu, manusia beranggapan bahwa ‘cinta sejati’ itu memang ada.
   
    Sekarang, saatnya untuk memilih mana yang mau kita percaya. Jika seseorang bertanya padaku, aku memilih kemungkinan kedua.
   
    Ya, aku meyakini bahwa ‘cinta’ hanyalah sesuatu yang semu. Hanya saja, kadang-kadang, kita terhanyut dan terpesona di dalam tipuan bayangannya.
   
    Percayalah, jika dihadapkan dengan kenyataan, kekuatan yang semua orang selalu bangga-banggakan dari ‘cinta sejati’ itu, tidak akan muncul.

No comments:

Post a Comment